Sosialisasi Kurikulum 2013 Mepet

Kompas.com - 20/12/2012, 13:57 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Sosialisasi dan uji publik Kurikulum 2013 dinilai para guru di sejumlah daerah terlalu mepet. Mereka pun belum pernah diundang untuk mendapat penjelasan soal Kurikulum 2013 sehingga tidak tahu isinya.

Sejumlah guru hanya mengetahui rencana perubahan kurikulum tersebut dari media. Namun, materi perubahan dan hal-hal lain yang terkait dengan Kurikulum 2013 banyak yang belum mengetahuinya, termasuk soal pelajaran Bahasa Daerah.

”Bahasa Daerah sebaiknya tetap dipertahankan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Bali Gede Wenten Aryasuda di Denpasar, Bali, Rabu (19/12).

Berdasar rencana Kurikulum 2013, Bahasa Daerah digabungkan dalam paket Seni dan Budaya. Pelajaran Seni dan Budaya adalah mata pelajaran di luar mata pelajaran pokok di tingkat sekolah menengah pertama.

Wenten menekankan, para guru harus dipersiapkan dengan baik sehingga mereka dapat mengajar siswa sesuai Kurikulum 2013.

”Penggabungan pelajaran memang tidak akan membebani siswa. Namun, bagi guru, penggabungan beberapa pelajaran menjadi satu paket pelajaran memerlukan persiapan yang matang,” tutur Wenten.

Lakukan pelatihan

Welly Manurung (30), guru di SDN 173238 Pangaloan, Kecamatan Pahae Jae, Tapanuli Utara, mengatakan, banyak guru, termasuk dia, yang belum memahami secara detail perubahan dalam Kurikulum 2013, apalagi terjadi penghapusan dan penggabungan mata pelajaran tertentu. Karena itu, dia meminta pemerintah menggelar pelatihan bagi guru sebelum kurikulum tersebut diterapkan.

Hal senada dikatakan Kepala SD Swasta Bina Taruna 3 Medan Samsuddin Tanjung. ”Pelatihan guru diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara Syaiful Syafri menjelaskan, awal 2013 pihaknya akan menggelar pelatihan kepada para guru menyongsong aplikasi Kurikulum 2013. Perwakilan guru dari semua daerah di Sumut diundang pelatihan oleh Dinas Pendidikan Sumut. Selanjutnya, mereka akan menularkan ilmu kepada rekan sesama guru di daerah masing-masing.

Diuji coba

Di Yogyakarta, Dewan Pendidikan Yogyakarta meminta agar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dievaluasi dulu kelemahan dan keunggulannya sebelum Kurikulum 2013 diterapkan. Kurikulum 2013 pun disarankan dilakukan uji coba di beberapa sekolah sebelum diterapkan secara serempak di semua sekolah.

”Uji coba di sejumlah sekolah perlu dilakukan agar kelemahan-kelemahan Kurikulum 2013 bisa diketahui dan segera dilakukan perbaikan,” kata Wakil Ketua Dewan Pendidikan DI Yogyakarta Hari Dendi.

Menyangkut diwajibkannya Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler, Dendi minta agar dipersiapkan serius. Sebab tidak semua sekolah memiliki pembina Pramuka yang kompeten dan profesional.

Di Surabaya, Jawa Timur, sejumlah guru mempertanyakan rencana penggabungan mata pelajaran. ”Sosialisasi dan pelatihan kepada guru jangan terlalu mendadak saat mendekati tahun ajaran baru. Bagaimanapun kami harus mempersiapkan diri,” kata Tarso, guru SD Negeri Ketabang I Surabaya. Hal senada juga disampaikan Kepala SD Negeri Kaliasin III Surabaya Umintrah. ”Semata-mata agar hasil Kurikulum 2013 bisa sesuai harapan,” kata Umintrah. (COK/MHF/ABK/DEN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau