Kecelakaan Maut di Cipularang karena Sopir Bus Ngantuk

Kompas.com - 22/12/2012, 10:47 WIB

KARAWANG, KOMPAS.com — Tabrakan antara bus pariwisata Perusahaan Otobus Tri Star bernomor polisi R 1696 EA dan sebuah truk tronton di Tol Cipularang arah Jakarta diduga karena sopir bus mengantuk. Bus pun dipacu dalam kecepatan tinggi.

Menurut informasi dari petugas, saat bus melintas di jalan Tol Cipularang Km 100, tiba-tiba kendaraan bus yang dikemudikan Sardiman itu oleng hingga sempat pindah ke lajur lambat. Setelah itu, kecelakaan maut antara bus dan truk tronton yang mengangkut pasir tak bisa terhindarkan.

Bus yang ditumpangi wisatawan asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang rencananya akan berwisata ke Masjid Kubah Emas, Depok, tersebut hancur pada bagian depannya.

"Kecelakaan diduga akibat pengemudi bus mengantuk, sampai terjadi oleng hingga terjadi tabrakan," kata AKP Irwansyah dari Polres Cimahi di lokasi kejadian, Sabtu (22/12/2012).

Dalam kecelakaan itu, tujuh orang penumpang bus meninggal dunia di lokasi kejadian. Untuk penanganan lebih lanjut, semua korban baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka langsung dibawa ke Rumah Sakit Efarina Etaham Purwakarta dan Rumah Sakit MH Thamrin Purwakarta.

Para korban meninggal dunia dan luka-luka itu merupakan warga Purbalingga, Jawa Tengah. Peristiwa kecelakaan tersebut kini ditangani aparat kepolisian dari Polres Purwakarta dan Polres Cimahi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau