Pelayanan

Transportasi Massal

Kompas.com - 24/12/2012, 12:16 WIB

HONGKONG, KOMPAS.com - Hongkong SAR bolehlah disebut sebagai salah satu kota dunia dengan transportasi ke bandara terbaik. Hendak ke Bandara Chek Lap Kok bisa ditempuh lewat udara, laut, dan darat.

Melalui jalur darat pun bisa dengan airport express, kereta api cepat dengan interior mirip pesawat terbang. Bisa juga dengan bus, taksi, dan kendaraan pribadi. Ingin ke kota lain, misalnya Makau, cukup dengan naik feri, langsung dari Bandara Chek Lap Kok.

Otoritas di Hongkong SAR rupanya cerdas mengatur lalu lintas darat agar pengguna jalan dimudahkan. Transportasi ke Bandara Chek Lap Kok bisa menjadi contoh betapa efisien perjalanan di kota berpenduduk 10 juta jiwa ini. Seorang yang ingin ke bandara cukup berdiri di depan hotel. Feeder bus (bus penghubung) akan ”samperin” warga lalu menuju  Stasiun Kowloon. Perjalanan gratis ini hanya butuh waktu 10 menit.

Di Stasiun Kowloon, para calon penumpang membeli tiket airport express senilai 90 dollar Hongkong (setara Rp 139.500) lalu bisa langsung melakukan  city check-in. Hampir semua maskapai mempunyai konter di sini, termasuk Garuda Indonesia. Seusai check in selama tiga menit, calon penumpang langsung menuju  airport express yang hanya 30 meter dari lokasi city check-in. Adapun perjalanan ke Bandara Chek Lap Kok hanya 20 menit.

Dengan demikian, total perjalanan ke bandara hanya 38 menit, sudah termasuk beli tiket kereta api dan check in. Kalau menggunakan taksi, ongkosnya dua kali lipat tarif tiket kereta api dan waktu tempuh lebih dari sejam. Keamanan dan kenyamanan pun jauh lebih baik. Sebagian di antara pengemudi-pengemudi taksi di Hongkong terkesan kurang ramah. Ada yang mengemudikan taksi suka seenaknya. Mereka tak peduli pada  penumpang.

Apa yang dilakukan Hongkong SAR sebetulnya dapat dilakukan oleh Indonesia, khususnya DKI Jakarta. Kini transportasi ke Bandara Soekarno-Hatta makin runyam. Kemacetan yang menghadang perjalanan ke bandara menjadi momok bagi para calon penumpang  ataupun yang baru saja mendarat.

Perjalanan ke dan dari bandara hanya bertumpu pada transportasi darat. Tak ada kereta api cepat. Jalan yang digunakan juga hanya itu. Tidak heran kalau kemudian kemacetan demikian kerap terjadi. Seorang penumpang yang baru mendarat sudah dihadang kemacetan. Jika seorang naik mobil dari bandara menuju Jalan Gatot Subroto, misalnya, kendaraan sudah dihadang kemacetan sejak di jalan tol bandara. Keluar kawasan tol bandara, kemacetan sudah menghadang sejak di  Grogol.

Alangkah cerdasnya para penguasa negeri ini kalau mampu memecahkan masalah kemacetan ini. Tidak usah banyak program canggih, bisa membuat perjalanan ke dan dari Bandara Soekarno-Hatta jauh lebih efisien saja sudah sangat baik. Bergegaslah bangun kereta api cepat atau angkutan massal lain ke bandara dan perlebar lagi jalan tol ke bandara internasional yang sudah berusia 27 tahun  itu.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau