Ekonomi

Infrastruktur Jawa Timur Menunggu Perhatian

Kompas.com - 26/12/2012, 03:19 WIB

Setiap tahun, ada 105 kilometer jalan rusak di Jawa Timur. Panjang jalan rusak itu mencapai 6 persen dari total jalan di provinsi tersebut. Dari keseluruhan jalan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur hanya mampu memperbaiki 75 persen.

Agus Maimun, anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, kepada Kompas, Jumat (14/12), mengatakan, jika jalan rusak tak segera diperbaiki, dalam lima tahun, jalan rusak di Jawa Timur setara dengan jarak Surabaya-Kediri.

”Kerusakan jalan raya di Jawa Timur makin memprihatinkan. Sebab, bisa memicu kecelakaan. Ketika jalan tidak segera diperbaiki, dalam lima tahun, panjang kerusakan bisa mencapai 123 kilometer atau sama dengan jarak Surabaya-Kediri melalui Kertosono,” kata Agus.

Agus melihat pemerintah masih setengah hati mencari solusi mengatasi kerusakan infrastruktur jalan. Bahkan, ancaman denda dan penjara bagi penanggung jawab infrastruktur, yang terbukti melakukan pembiaran jalan rusak, ternyata tidak membuat efek jera.

Setiap tahun, anggaran pemeliharaan jalan dan jembatan di Jawa Timur mencapai Rp 139 miliar. Dana tersebut tidak mencukupi sebab kebutuhan untuk pemeliharaan rata-rata Rp 1,5 triliun per tahun.

Anggaran perbaikan jalan yang diberikan ke setiap pemerintah kabupaten/kota sebesar Rp 5 miliar juga kurang efektif. Hal itu karena tingkat kerusakan jalan setiap daerah berbeda.

Di Malang, Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sri Untari Bisowarno mengatakan, penduduk Kota Malang 1 juta-1,5 juta orang. Sementara panjang jalan raya tak bertambah. Di DPRD Kota Malang sudah muncul kekhawatiran, arus lalu lintas kendaraan bakal tak lagi bergerak pada tahun 2015 jika tak ada penambahan kawasan atau perluasan kota. Kota Batu juga selalu dibebani pengunjung nonpermanen, yaitu turis, terutama pada akhir pekan dan liburan. Jumlah wisatawan ialah 3.000-5.000 orang pada akhir pekan.

Guru Besar Transportasi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, Harnen Sulistyo menyatakan, Kota Malang membutuhkan inovasi baru pengaturan lalu lintas berupa rekayasa jalan dan pembangunan jalur alternatif yang memadai. Kepala Bidang Tata Kota Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kota Malang Erik Santoso mengungkapkan, pemerintah kota telah menyusun rencana pengelolaan jangka panjang, termasuk lalu lintas, melalui strategi pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan.

Di Kabupaten Banyuwangi, pemerintah menyisihkan dana Rp 6 miliar pada tahun 2012 untuk memperbaiki jalan menuju kawasan wisata. Pariwisata nantinya menjadi pendukung ekonomi rakyat Banyuwangi, selain pertanian dan industri.

Perbaikan jalan, tahun ini, dimulai dari jalur menuju Ijen, Alas Purwo, dan daerah Banyuwangi selatan. ”Jika tahun lalu hanya 90 kilometer yang diperbaiki, tahun ini bisa 250 kilometer. Tahun depan, kami masih akan memperbaiki jalan sepanjang 250 kilometer untuk menunjang kawasan industri dan pertanian,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Selain perbaikan jalan, pembangunan pelabuhan juga diharapkan bisa direalisasikan. Pelabuhan, menurut Anas, penting sebab Banyuwangi merupakan pintu gerbang ekonomi Bali-Nusa Tenggara. Kawasan industri cocok dibangun di Banyuwangi sebab Bali tidak mempunyai lahan cukup dan infrastruktur di Nusa Tenggara masih minim.

Perlu perhatian pusat

Akan tetapi, perbaikan jalan dan infrastruktur itu tidak bisa dilakukan pemerintah Banyuwangi sendiri. Pemerintah kabupaten butuh pemerintah pusat untuk ikut memikirkan perbaikan infrastruktur di daerah.

Ketua DPD REI Jawa Timur Erlangga Satriagung mengatakan, pengembangan pelabuhan dan pembangunan jalan tol menjadi penting sebab bisa berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Apalagi, Jawa Timur mempunyai 766.783 industri kecil dengan pekerja mencapai 1,8 juta orang serta industri besar sebanyak 973 unit dengan jumlah pekerja 352.855 orang.

Namun, pakar transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Daniel Rosyid, menilai Pemprov Jawa Timur masih mengabaikan pembangunan infrastruktur transportasi air yang sangat penting. Jawa Timur, di mata Daniel, adalah provinsi di Jawa yang memiliki banyak pulau.

”Infrastruktur transportasi air tidak dapat dielakkan jika pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur ingin merata,” kata Daniel. Pelabuhan perlu dibenahi serta peningkatan pelayanan penyeberangan dan pelayaran kapal perlu didukung kebijakan pemerintah. Transportasi air terutama dibutuhkan masyarakat di pulau-pulau di sekitar Madura. Selain itu, di Jawa Timur, ada dua sungai besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Bahkan, dominasi pembangunan infrastruktur jalan ini membuat pembangunan jaringan rel kereta api di Jawa Timur terabaikan. Pulau Madura, misalnya, sudah memiliki jaringan rel kereta api yang sudah mati dari Bangkalan hingga ke Sumenep. Jaringan rel yang mati itu seharusnya diaktifkan kembali untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Madura.

Jembatan Suramadu selama ini belum dapat memberi banyak manfaat ekonomi kepada Madura karena infrastruktur di Madura belum memadai. Di sisi lain, Suramadu membuat warga Madura lebih mudah pergi ke Surabaya dan membelanjakan uang. (ETA/DEN/ODY/NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau