Lapak Pemulung di Bantaran dan Kebersihan Sungai

Kompas.com - 26/12/2012, 17:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran lapak-lapak pemulung di sekitar bantaran sungai sudah jamak terlihat di Jakarta dan sekitarnya, tak terkecuali di seputaran Kali Ciliwung dan Kali Cipinang.

Lokasi yang kumuh membuat aparat yang seharusnya melaksanakan pengawasan terhadap lokasi-lokasi tersebut enggan merapat. Alhasil, lapak-lapak tersebut menjadi sumber pembuangan sampah ke sungai-sungai utama di Jakarta yang seharusnya steril dari bahan buangan.

Pemandangan tersebut terlihat jelas di Gudang Peluru, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Warsidi, seorang pemulung dengan santai membuang sampah-sampah dari gerobaknya ke kali Ciliwung. "Emang biasanya dibuang di sini. Semuanya (pemulung) di sini begitu kok," kata Warsidi dengan nada santai saat ditemui Kompas.com, Rabu (26/12/2012).

Dia menjelaskan, lokasi di pinggir sungai memang menjadi pilihan bagi para pemulung. Di tempat tersebut mereka bisa mencuci botol-botol dan barang-barang bekas lain yang masih laku dijual.

Di sungai pula mereka bisa dengan bebas membuang barang-barang yang tidak dibutuhkan. "Apalagi, lokasi pinggir kali biasanya murah dan kosong," tambah Warsidi.

Akibat perilaku tersebut, bantaran Ciliwung yang telah dilebarkan di lokasi yang tak jauh dari Terminal Kampung Melayu itu menjadi tak sedap dipandang mata.

Apalagi, akibat banjir selama dua hari pada 23-24 Desember lalu, tumpukan tanah lumpur ikut menumpuk pada 3/4 daerah aliran sungai (DAS) di lokasi tersebut. Situasi tak berbeda dilakukan Pardi, warga RT 12 RW 10 Bukit Duri, Tebet.

Gerobak sampahnya didekatkan ke pinggir Kali Ciliwung yang belum benar-benar surut dan satu per satu barang yang tidak diperlukan dibuang ke kali. "Emang begitu kebiasaan dia," kata Ruslan (73), tetangga di samping rumahnya.

Hal yang sama dilakukan tetangga Pardi lainnya. Ujang, penjual ketoprak dengan santai melempar dua kantong plastik sampah ke sungai di belakang rumahnya dan berlalu begitu saja.

Ruslan mengatakan, kebiasaan itu tetap berlangsung setiap hari meskipun peringatan sudah sering disampaikan aparat pemerintahan setempat. Warga seakan-akan tidak peduli dengan kondisi sungai dan posisi mereka sebagai korban setiap kali terjadi banjir.

"Kalau saya, setiap keluarga yang ngontrak di sini langsung saya peringatkan supaya tidak buang sampah di kali. Saya udah bikin lubang sampah yang lebar di belakang rumah dan sampah dibakar setiap hari," kata Ruslan.

Ia menjelaskan, peringatan tersebut terpaksa harus selalu diulang. Selain karena persoalan mentalitas warga, mereka yang mengontrak di lokasi bantaran Ciliwung umumnya tidak bertahan lama.

Setengah tahun menetap di lokasi tersebut, menurut Ruslan, sudah terhitung lama. Saat berkunjung ke lokasi tersebut pada Senin (24/12/2012), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengajak warga Bukit Duri untuk menjaga kebersihan aliran sungai dengan tidak sembarangan membuang sampah.

Namun, imbauan tersebut tampaknya akan sia-sia tanpa adanya pengawasan terhadap lapak-lapak pemulung di sepanjang Kali Ciliwung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau