Tak Masalah Direlokasi ke Rusun yang Penting Murah

Kompas.com - 26/12/2012, 20:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wilayah Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, menjadi salah satu kawasan langganan banjir. Meski demikian, lokasi tersebut tetap dipadati warga sederhana lantaran mahalnya nilai tempak kontrakan di Jakarta.

Walaupun harus berjibaku setiap kali banjir datang, murahnya kontrakan di sepanjang bantaran Kali Ciliwung itu akhirnya tetap menjadi pilihan favorit warga. "Mau gimana lagi, di sini murah sih," ujar Inem (46), ibu rumah tangga di RT 12 RW 10 Bukit Duri, saat ditemui Kompas.com, Rabu (26/12/2012).

Sambil membersihkan halaman rumahnya dari sisa-sisa air dan lumpur, Inem menuturkan, dia dan suaminya menetap di Bukit Duri sejak dua tahun lalu. Kondisi banjir terpaksa diakrabi mereka demi mendapatkan hunian murah.

Setiap bulan ia menyisihkan Rp 200.000 dari pendapatan suaminya yang berprofesi sebagai sopir taksi untuk membayar kontrakan. "Kalau di tempat lain mana ada Rp 200.000. Satu pintu tapi dapat lantai bawah dan atas sekalian," tutur Inem.

Alasan serupa yang mendorong Ida (34) bersama suami dan seorang anaknya memilih bertahan di Bukit Duri walaupun kerap merasa tidak nyaman saat musim hujan tiba.

Dikontrakan milik Ruslan (73) yang terletak tepat di tepi Kali Ciliwung itu ia hanya menyetor Rp 150.000 per bulan. Ditanyai soal wacana Pemprov DKI untuk mendirikan hunian lebih layak dan bebas banjir dalam bentuk rumah susun deret atau rumah susun sederhana, Inem dan Ida mengaku tidak berkeberatan.

Selama harganya terjangkau dan bebas dari teror banjir, keduanya menyambut gembira. "Iya, dengar-dengar mau direlokasi ya. Nggak ada masalah kalau pindah ke rusun karena katanya murah," ujar Ida.

Keduanya berharap realisasi rencana tersebut bisa dipercepat. Pasalnya, mereka yang mengontrak di wilayah bantaran lantaran terpaksa. Kebutuhan akan hunian murahlah yang mendorong mereka bersabar terhadap luapan Ciliwung yang mencapai ketinggian di atas tiga meter pada Senin (24/12/2012) kemarin.

"Kalau memang ada tempat sewa murah dan bebas banjir, kami senang banget bisa pindah dari sini," kata Roni, sopir bajaj, warga RT 12 RW 10 lainnya.

Yang masih sedikit kebingunan adalah warga yang menjadi pemilik kontrakan. Selain mempertimbangkan ganti rugi atas rumahnya, mereka juga memperhitungkan hilangnya potensi pendapatan dari kontrakan yang menjadi sumber penghasilan mereka.

"Saya kan sudah lama pensiun. Sekarang cuma nungguin uang kontrakan. Kalau harus pindah ke rusun, gimana ya," ujar Ruslan.(73).

Ada delapan kamar rumah Ruslan yang disewakan. Rata-rata tiap bulan ia menerima setoran dari 4-5 penghuni. Sejak berhenti bekerja sebagai pesuruh di SMP Negeri 15 Menteng Dalam, Tebet, ia mengandalkan pendapatan dari sewa kontrakan.

Oleh sebab itu, meskipun telah dilelahkan oleh banjir, pria asli Kuningan, Jawa Barat itu mengaku kebingungan kalau harus kehilangan rumahnya yang juga mendatangkan penghasilan bagi dia dan keluarga. "Saya belum bisa menentukan pilihan," pungkas Ruslan.

Pemprov DKI berencana merelokasi warga-warga yang tinggal di wilayah langganan banjir, terutama penghuni bantaran kali ke Kampung Deret dan rumah susun. Hunian sederhana dan layak itu akan disediakan bagi warga dengan sistem sewa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau