Rumah Pompa Air Dibersihkan

Kompas.com - 27/12/2012, 03:06 WIB

Jakarta, Kompas - Sejumlah bangunan semipermanen di RW 011 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dibongkar, Rabu (26/12). Pembongkaran dilakukan karena bangunan tersebut menutup saluran air dan rumah pompa air.

Wakil Lurah Petamburan Arif Subhan mengatakan, selama ini pembersihan dan pemeliharaan rumah pompa sulit dilakukan karena akses masuk terhalang bangunan. ”Setelah bangunan dibersihkan, pembersihan saluran dan rumah pompa akan dilakukan Sudin PU Tata Air Jakarta Pusat,” kata Arif.

Di selokan di depan rumah pompa tersebut, tumpukan sampah terjaring saringan besi. Biasanya, menurut Arif, sampah diambil secara manual sehingga jumlah yang terangkat dari air sangat sedikit.

Setelah pembersihan ini, Arif mengatakan, petugas bisa lebih mudah mengakses ke lokasi dan membersihkan sampah dengan alat berat. Dengan demikian, kinerja pompa tidak lagi terhalang sampah yang tersedot masuk dan merusak mesin. Setelah pembersihan, pengoperasian pompa diharapkan bisa lebih maksimal. Selain itu, truk pengangkut sampah juga bisa mendekati saluran air untuk menampung sampah yang sudah diangkat dari saluran.

Sekretaris Kelurahan Petamburan Suherman mengatakan, pembongkaran bangunan di depan rumah pompa sudah dilakukan sejak Kamis pekan lalu. ”Bangunan yang dibongkar ini semula dipakai sebagai kios pasar pintu air,” kata Suherman menjelaskan.

Setelah pembongkaran, Suherman mengatakan, tidak boleh lagi ada bangunan yang menghalangi akses rumah pompa.

Di Jakarta Pusat, Kelurahan Petamburan merupakan salah satu kelurahan yang rawan banjir. Meskipun sudah ada 2 rumah pompa di kelurahan ini, banjir masih melanda. Terakhir, banjir melanda 7 rukun warga di Kelurahan Petamburan, Sabtu pekan lalu.

Sebelumnya, petugas juga membongkar bangunan yang menutup saluran air yang menghubungkan Kanal Barat. Selama tertutup bangunan, saluran air itu dipenuhi sampah sehingga kapasitas saluran untuk menampung air berkurang.

Kanal Barat

Di tempat lain, Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Barat Monang Ritonga mengatakan, Senin (24/12) dan Selasa (25/12) malam, Kanal Barat di RT 007 RW 010, Grogol Petamburan, terutama di sekitar Season City, dibersihkan dari sampah. Pengerukan dilakukan dengan satu alat berat dan empat truk.

Sejumlah warga yang ditemui dilokasi membenarkan hal itu. Menurut mereka, pengerukan dilakukan pukul 20.30 hingga pukul 23.00. ”Hari pertama digunakan dua truk, masing-masing dua kali mengangkut sampah. Hari kedua empat truk yang dikerahkan,” kata Sarwan (53), warga setempat.

Amir (33), warga lainnya, menambahkan, pengerukan dilakukan di tengah jembatan. Karena itu, puluhan pedagang kaki lima yang biasanya berjualan di jembatan sampai kemarin tidak berjualan. Arus lalu lintas di jembatan jadi lebih lancar.

Meski sudah dikeruk, sampah di ruas itu masih menghampar seluas 40 meter x 40 meter. Monang beralasan kekurangan truk pengangkut.

Terowongan

Selasa, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memeriksa saluran air di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Saluran air di ruas jalan itu tersumbat endapan tanah dan pipa. Saluran berdiameter 60 sentimeter itu dibuat sekitar tahun 1970 dan belum pernah diperbesar kapasitasnya hingga saat ini. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hendak melebarkan saluran air itu menjadi 1,5-2 meter. Solusi jangka pendek, Jokowi meminta kemampuan pompa air diperbesar di kawasan Sudirman dan Thamrin.

Saat meninjau saluran air, Jokowi menyampaikan rencana pembangunan terowongan raksasa sebagai solusi jangka panjang banjir di Jakarta. ”Pembangunan deep tunnel sudah menjadi kebutuhan mendesak. Rencana ini harus segera direalisasikan. Deep tunnel itu mirip smart tunnel di Kuala Lumpur,” tutur Jokowi.

Dia yakin kemampuan APBD DKI sanggup membiayai proyek itu. Proyek ini pernah diwacanakan oleh Sutiyoso saat menjabat Gubernur DKI. Namun, tidak berlanjut. ”Awal Januari 2013 akan kami putuskan. Kemungkinan terowongan itu dari MT Haryono sampai Pluit,” tutur Jokowi.

Taman kota rusak

Sejumlah taman kota di Jakarta Utara tergenang saat hujan turun karena permukaannya lebih rendah daripada jalan dan tanah di sekitarnya. Akibatnya, taman menjadi becek, kotor, dan rusak rumputnya.

Kondisi itu antara lain terlihat di Taman Rawabadak Utara di Kecamatan Koja dan Taman Volker di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Air menggenang hingga 20 sentimeter serta menutup rumput dan sebagian fasilitas taman.

Di Rawabadak Utara, taman telah ditumbuhi kangkung dan tumbuhan liar akibat lama tergenang. Warga memasang karung pasir dan tanah untuk menghambat air, tetapi genangan tetap terjadi. Sebagian lahan dipakai untuk membuang sampah dan memarkir kendaraan.

”Setiap musim hujan taman selalu tergenang. Tanahnya menjadi becek, tumbuhan liar cepat tinggi, dan sampah mengumpul terbawa air. Taman jadi tak bisa dinikmati lagi,” kata Wiwin Muis (60), warga Rawabadak Utara.

Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Utara Heru Bambang Ermanto mengatakan, sedikitnya 20 taman dari total 153 taman kota di Jakarta Utara tergenang ketika hujan turun.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mulyono Rahadi Prabowo memprediksi, hujan turun di Jakarta mulai pekan ini hingga malam pergantian tahun. Hujan lebat disertai petir dan angin kencang tetap ada meski potensinya cenderung menurun.(NEL/ART/MKN/NDY/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau