Pemain bintang

Walcott Menyusuri Jejak Thierry Henry

Kompas.com - 31/12/2012, 03:20 WIB

Theo Walcott berjalan meninggalkan Stadion Emirates dengan senyum mengembang. Tangannya menggamit bola yang dia ceploskan tiga kali ke gawang Newcastle United yang dihantam Arsenal, 7-3, Minggu (30/12) dini hari WIB.

Walcott membayar lunas kepercayaan yang diberikan oleh Pelatih Arsenal Arsene Wenger, yang memberinya peran sebagai penyerang diapit oleh dua sayap, Lukas Podolski dan Alex Oxlade-Chamberlain. Tiga gol ke gawang Newcastle menempatkan Walcott sebagai pemain ”The Gunners” paling subur dengan 14 gol di semua kompetisi.

Ketajaman pemain berusia 23 tahun itu merebut simpati suporter Arsenal. Sepanjang langkah Walcott meninggalkan Stadion Emirates, sekitar 60.000 suporter Arsenal meneriakkan, ”Kontrak dia, kontrak dia.”

Ya, negosiasi perpanjangan kontrak mantan pemain Sunderland ini belum final. Walcott pada awal musim ini menegaskan dia akan bertahan di Arsenal jika mendapat jaminan tampil reguler. Walcott juga ingin menempati posisi ujung tombak, bukan di sayap kanan.

Wenger merespons keinginan pemain yang dia bina sejak berusia 19 tahun itu. Walcott tiga kali dipasang sebagai ujung tombak dan menyumbangkan empat gol, serta satu penalti berkata pelanggaran terhadapnya, yang menjadi penentu kemenangan Arsenal atas Wigan.

Pemain tercepat di Liga Inggris dengan rata-rata kecepatan 36,56 km per jam itu menunjukkan bakatnya sebagai ujung tombak dengan memborong tiga gol saat melawan Newcastle. Gol pertamanya pada menit ke-20 mengingatkan pada gaya penyelesaian akhir Thierry Henry, pencetak gol terbanyak Arsenal.

Walcott berada di sisi kanan depan gawang lawan saat menerima umpan terobosan Podolski dari wilayah Arsenal. Walcott meluncur cepat ke kotak penalti Newcastle, mengecoh kiper Tim Krul, dan melepaskan bola mendatar. Hasilnya sempurna. Bola bersarang di sudut kiri gawang. ”Itu gaya penyelesaian Thierry Henry,” ujar Wenger.

Henry menyaksikan gol itu dari tribune. Ia tersenyum gembira dan bertepuk tangan. Pemain yang kini membela klub New York Red Bulls itu bersama Arsenal untuk berlatih mengisi jeda kompetisi di Major League Soccer Amerika Serikat.

Wenger meminta Henry membimbing Walcott mentransformasikan dirinya dari posisi sayap ke penyerang tengah. ”Dia (Henry) memberi masukan kepada dirinya (Walcott) dan Theo anak sangat cerdas. Dia cepat paham saat Anda menyampaikan sesuatu kepada dirinya dan itulah mengapa, menurut saya, dia akan sangat baik di posisi ini. Bagus jika dia ambil kesempatan ini. Jika tidak, dia tetap akan jadi pemain sayap yang fantastis,” ujar Wenger.

Sentuhan tangan dingin Wenger pulalah yang menjadikan Henry penyerang paling berbahaya di Eropa. Henry bergabung dengan Arsenal di usia 22 tahun dan setahun kemudian digeser dari sayap ke ujung tombak.

Kini, Walcott menjalani proses transformasi yang sama, juga di usia 23 tahun. Wenger menilai, untuk menjadi ujung tombak andal, pemain harus belajar banyak hal di posisi lain. Walcott menjalani tempaan ini sejak 19 tahun hingga kini berusia 23 tahun. Wenger pun puas dengan ketajaman Walcott.

”Saya menikmati bermain di posisi apa pun, tetapi ini pemberitahuan kepada pelatih untuk memberi saya kesempatan bermain di depan,” ujar Walcott.

(ESPN/Reuters/The Guardian/ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau