Malas Terjebak Macet di Sudirman, Warga Pilih KBT

Kompas.com - 31/12/2012, 19:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta Night Festival (JNF) menjadi daya tarik masyarakat Jakarta untuk merayakan pergantian malam tahun baru di ruas Jalan Thamrin-Sudirman. Namun, rupanya tak semua warga datang ke perhelatan itu. Sebagian, memilih Kanal Banjir Timur untuk menunggu momen pergantian tahun.

Pantauan Kompas.com, Senin (31/12/2012) petang, trase kering bagian selatan, tepatnya di ruas Duren Sawit, Jakarta Timut, sudah mulai dipadati ratusan warga yang didominasi oleh keluarga. Menggunakan sepeda motor, warga tampak berlalu-lalang di trase mencari tempat untuk menunggu detik-detik pergantian tahun. Rasa antusias paling tampak di wajah anak-anak.

Beberapa bocah tak berhenti meniupkan terompet di sepanjang jalan saat orangtuanya tengah sibuk mencari tempat menikmati malam. Beberapa bocah lainnya tampak menikmati mainan yang dijual di sepanjang trase tersebut. Keriuhan suasana KBT jelang malam pergantian tahun tak lepas juga dari banyaknya pedagang di sepanjang KBT. Apa saja ada, mulai dari baju, mainan anak-anak, pedagang kembang api, aneka ragam jenis kuliner hingga aksesoris ponsel. Suasana demikian membuat sepanjang KBT layaknya pasar malam pada umumnya di Jakarta.

Radja Giri (42), salah seorang pengunjung KBT, mengatakan, ia beserta istri dan dua anaknya enggan melewatkan malam pergantian tahun di JNF dan lebih memilih KBT. Alasan utama warga Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur itu adalah kemacetan yang pasti terjadi.

"Malas macet-macetan. Kasihan anak. Nanti bukannya menikmati tahun baru, malah kesal gara-gara macet. Mendingan di sini saja, ada kembang api juga kok," ujarnya.

Terlebih, kata Radja, situasi keramaian yang pasti terjadi di acara besutan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi Widodo tersebut, juga menjadi pertimbangannya untuk memilih menepi di KBT. Pasalnya, ia trauma atas peristiwa hilangnya sang anak dan insiden kecopetan yang menimpa Radja saat pergantian tahun 2011 ke 2012 lalu.

"Anak saya hilang tahun lalu di Bundaran HI. Untung hilangnya nggak lama, sudah begitu, saya kecopetan lagi, kapok deh," lanjutnya.

Nurul Dewi (52), warga lainnya, mengungkapkan hal senada. Faktor kemacetan di jalan menuju JNF membuyarkan keinginannya untuk menikmati acara musik di 16 panggung musik. Atas kondisi itu, ia pun meminta pemerintah DKI Jakarta untuk membuat acara yang sama di tiap kota administratif di DKI Jakarta.

"Harusnya jangan dipusatkan begitu. Pasti nggak nyaman masyarakat juga. Harusnya diadakan di tiap tempat kumpul-kumpul di Jakarta, ada acaranya, biar merata," ujarnya.

Malam pun kian larut. Deru kendaraan roda dua semakin bertambah seiring datangnya warga lain yang hendak melewatkan pergantian dari tahun 2012 ke 2013. Ajakan pedagang untuk membeli barang dagangannya seakan beradu dengan riuh rendah situasi yang ada. Warga seakan tak peduli akan tidak adanya panggung musik, yang penting mereka bisa melewatkan malam terakhir di 2012 bersama sanak keluarga terkasih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau