Google Buang 50 Juta "Tali Terlarang" Sepanjang 2012

Kompas.com - 02/01/2013, 09:09 WIB

AP Ilustrasi


KOMPAS.com -
Selama tahun 2012 yang baru saja lewat, raksasa internet Google telah membuang puluhan juta tautan internet yang terkait dengan pelanggaran hak kekayaan intelektual.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ernesto Van der Sar dari TorrentFreak yang menganalisis "laporan transparansi" mingguan Google sepanjang 2012 untuk menemukan berapa jumlah link "pembajak" yang dibuang oleh Google.

Jumlah totalnya ternyata mencapai lebih dar 51 juta tautan. "Hampir semua link website dalam daftar hitam tersebut tak lagi muncul dalam hasil pencarian Googe," tulis Van Der Sar, seperti dikutip oleh PC World.

google.com



Seperti halnya situs dan layanan jasa internet lainnya yang berbasis di Amerika Serikat, Google tunduk pada hukum federal di negeri tersebut (Digital Millenium Copyright Act) dan akan menutup akses ke konten ilegal apabila diinstruksikan oleh pemegang  hak cipta.

Van der Sar mengungkapkan bahwa aktivitas pemblokiran oleh Google ini meunjukkan tren terus meningkat sepanjang tahun 2012. Puncaknya terjadi minggu lalu saat Google mendapat 3,5 juta permintaan penutupan link.

Salah Tembak


Kebanyakan permintaan pemblokiran itu dilakukan oleh sistem-sistem otomatis milik para pemegang hak cipta. Sistem tersebut tidak selalu benar dan kadang malah bisa memasukkan situs web yang tidak terlibat aktivitas ilegal dalam daftar hitam.

Bila ini yang terjadi, biasanya kisah selanjutnya bakal melibatkan tuntutan hukum. Contohnya, seperti gugatan yang dilayangkan oleh pemilik jasa online storage Hotfile terhadap Warner Bros. Entertainment

Gara-garanya, Warner, perusahaan yang bergerak di bisnis hiburan itu, membanjiri Hotfile dengan ribuan permintaan pemblokiran atas konten Hotfile yang hak ciptanya tak dimiliki oleh Warner.

Undang-undang Ditigal Millenium Copyright Act memang menyatakan bahwa siapapun yang "salah tembak" dalam urusan blokir-memblokir ini bisa dikenai tuntutan hukum dan permintaan ganti rugi. Dalam kasus Hotfile, Warner berkilah bahwa yang mengajukan permintaan memblokir bukanlah "orang" sungguhan, melainkan sebuah komputer otomatis.

Perusahaan media seperti Warner adalah salah satu pihak yang paling getol mengajukan permintaan blokir atas stus yang diduga melanggar hak cipta.

Sementara, yang paling banyak mengajukan permintaan blokir, berdasarkan analisa Van Der Sar, adalah Recording Industry Association of America yang meminta Google membuang sebanyak 7,8 juta tautan dari hasil pencariannya.

Website yang paling banyak dijadikan sasaran pemblokiran adalah FilesTube, yang "mengumpulkan" 2,2 juta permintaan blokir terkait pelanggaran hak cipta.

"Meskipun angka tersebut terdengar besar, tautan-tautan itu hanya mewakili kurang dari 1 persen jumlah total laman FIlesTube yang diindeks oleh Goolge," lanjut Van Der Sar.

Para pemegang hak cipta bukan satu-satunya yang menekan Google untuk membuang tautan ke situs-situs pelanggar hak cipta. Pemerintah di sejumlah negara pun gencar melakukan hal serupa, misalnya di Amerika Serikat, Jerman, bahkan juga Brazil. Biasanya permintaan blokir yang diajukan pihak pemerintah terkait dengan alasan defamasi, privasi, dan keamanan.

Akan tetapi, disamping memblokir tautan-tautan tertentu, pemerintah sebuah negara juga tertarik mengetahui informasi yang dmiliki Google tentang penggunanya. Trend ini juga menunjukkan kecenderungan meningkat sepanjang 2012. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau