Angie Merasa Lugu

Kompas.com - 04/01/2013, 02:36 WIB

Jakarta, Kompas - Terdakwa kasus penggiringan anggaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Pendidikan Nasional, Angelina Sondakh, tak pernah membayangkan dunia politik yang ia masuki ternyata penuh dengan intrik.

Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau biasa disebut Angie mengatakan, dirinya polos dan lugu saja menjalani aktivitas sebagai politisi sehingga dalam kasus yang sedang ia hadapi tak sadar diperdaya oleh orang yang bertopeng kebenaran.

”Tak pernah terlintas di kepala saya bahwa politik penuh dengan intrik, saling menjatuhkan, dan mengorbankan orang lain demi tercapainya kepentingan tertentu,” kata Angie ketika membacakan pleidoi atau pembelaannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (3/1).

Menuding Mindo

Dalam pembelaan pribadinya setebal 37 halaman itu, ia menuding peran Mindo Rosalina Manulang sebagai orang licik dan sadis.

”Saya terentak karena tidak pernah saya bayangkan bahwa Mindo dan kawan-kawan begitu licik dan sadis dalam memainkan perannya sampai harus mengganti namanya dan melancarkan berbagai serangan untuk meloloskan kepentingannya mendapatkan proyek,” katanya.

Angie sebelumnya telah dituntut jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi dengan pidana penjara 12 tahun dan harus membayar uang pengganti Rp 32 miliar.

Namun, hingga kini, Angie bersikeras tidak ada dana yang terbukti mengalir kepadanya. Secara implisit, baik pembelaan Angie maupun pembelaan penasihat Angie, berkesimpulan bahwa aliran dana hingga 16 transaksi bukan tidak mungkin masuk ke saku Mindo.

Menurut Angie, bagaimana bisa seorang karyawan dengan gaji Rp 14 juta per bulan memiliki rekening hingga Rp 26 miliar dalam waktu hanya dua tahun efektif bekerja.

Angie mengaku heran dengan pernyataan Mindo sebagai justice collaborator. Justice collaborator seharusnya membuka fakta yang sebenarnya, tetapi menurut dia justru malah menimbulkan banyak kebingungan.

Dibujuk

Angie mengaku pernah dibujuk Mindo Rosalina Manulang, Direktur Pemasaran Grup Permai, untuk meminta uang Rp 20 miliar kepada orang-orang yang disebut Mindo terlibat. ”Yang membuat saya terkejut, nama-nama yang dia sebutkan kepada saya tidak pernah dia ungkapkan dalam persidangan,” katanya.

Angie perlu memberi penekanan soal bujukan Mindo tersebut karena sebagai pengingat bahwa dia tidak ingin menjadi korban dari sebuah skenario besar. Hingga kini, Angie mengaku tak tahu ke mana arah kasus yang ia alami dan tak tahu siapa dalang di balik semua ini.

Memanfaatkan anak-anak

Dalam sidang pembacaan pleidoi pribadinya, Angie sempat membawa-bawa anak-anaknya dengan ditampilkan dan diperkenalkan di persidangan. Dua anak perempuan Angie yang berumur sekitar 11 tahun dan 10 tahun tersebut ia bawa masuk ke persidangan dan ia panggil namanya satu per satu.

Ketua Majelis Hakim Sujatmiko langsung memprotes usaha Angie untuk membawa-bawa anak-anaknya ke persidangan.

Dalam aturan persidangan, Sujatmiko memang sering mengingatkan agar anak-anak di bawah umur tak memasuki ruang persidangan. Namun, Angie sempat bersikeras untuk menampilkan anak-anaknya dengan alasan mereka sudah cukup umur dan mengerti kasus yang sedang ia hadapi.

Sujatmiko pun langsung memerintahkan anak-anak keluar karena jika tetap berada di persidangan dikhawatirkan bisa memengaruhi kondisi psikologis sang anak. Maka, sang anak pun keluar menunggu ibunya di luar persidangan.

Seusai persidangan, Angie kembali membawa anak-anaknya di hadapan ratusan media televisi yang mewawancarainya.

Kedua anak dan sang ayah, Lucky Sondakh, duduk mengapit Angie untuk melayani wawancara layaknya wawancara di acara hiburan televisi (infotainment).

Sidang akan dilanjutkan Kamis pekan depan dengan agenda pembacaan vonis oleh majelis hakim. (AMR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau