Lebih dari tiga pekan setelah menjalani operasi kanker keempat di Havana, Kuba, belum jelas bagaimana kondisi Chavez (53) sesungguhnya. Tekanan kepada pemerintah meningkat untuk menjelaskan keadaan kesehatannya secara rinci.
Pemimpin koalisi oposisi MUD, Ramon Guillermo Aveledo, mengatakan, informasi yang diberikan pejabat pemerintah tidak mencukupi. Ia menuduh pemerintah tidak bertanggung jawab dengan mencoba memperlihatkan seakan-akan Chavez menjalankan tugas resminya, padahal dia menjalani masa pemulihan yang sulit di Kuba.
”Penting bagi pemerintah untuk bertindak dengan cara yang menumbuhkan kepercayaan dan menceritakan hal sebenarnya,” katanya.
Aveledo mengimbau pemerintah agar mengumumkan ”diagnosis dan prognosis medis” mengenai kondisi Chavez.
Chavez tidak muncul di televisi atau radio sejak operasi pada 11 Desember. Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Selasa, mengatakan, kondisi presiden itu tetap ringkih karena komplikasi dari infeksi pernapasan.
Menteri Ilmu Pengetahuan Jorge Arreaza, yang juga menantu Chavez, mengatakan, kakak Chavez, Adan Chavez, tiba di Havana, Rabu. ”Kami bertemu dengan dia, Wapres Maduro, dan Jaksa Agung Cilia Flores,” kata Arreaza lewat sebuah pesan di Twitter.
”Tim medis menjelaskan kepada kami bahwa kondisi Presiden Chavez tetap stabil dalam keadaan ringkihnya,” ujarnya.
Maduro dan pejabat pemerintah lain mendesak rakyat Venezuela agar tidak menghiraukan kabar angin mengenai kondisi Chavez.
Aveledo mengatakan, oposisi bersikap hormat selama Chavez sakit. Sumber kabar angin itu justru menambah ketidakpastian dan menyebabkan kebingungan. Ia mengulangi imbauan oposisi agar mengeluarkan laporan
Kondisi Chavez amat menentukan situasi politik negeri itu karena pada 10 Januari dia akan dilantik kembali sebagai presiden setelah memenangi pemilu pada November. Aveledo mengatakan, semua indikasi memperlihatkan Chavez tak bisa menghadiri pelantikannya.
Kalau Chavez tak bisa dilantik, konstitusi Venezuela menyebutkan, Ketua Majelis Nasional harus mengambil alih pemerintahan sementara sampai pemilu baru diadakan.
Kecemasan tak hanya dirasakan di dalam negeri. Sejumlah negara tetangga dengan pemerintahan sosialis, seperti Bolivia dan Ekuador, yang bergantung pada dukungan Venezuela, juga ikut cemas jika terjadi krisis politik di Caracas.
Presiden Bolivia Evo Morales, salah satu sekutu terdekat Chavez, mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah berbicara dengan keluarga Chavez.
”Situasi saudara kita Presiden Chavez sangat mengkhawatirkan. Saya mencoba menghubungi wakil presiden, tetapi sulit. Saya harap tujuan mereka untuk menyelamatkan nyawa Presiden Chavez tercapai,” katanya.
Krisis politik di Venezuela juga bisa berakibat lebih luas karena Venezuela adalah penghasil minyak terbesar di dunia, dan memiliki cadangan minyak terbukti yang terbesar di dunia.
Di Brasil, pejabat istana kepresidenan, Planalto, mengatakan, Brasilia mengikuti keadaan Chavez. ”Tidak ada alasan untuk khawatir, sesuatu yang luar biasa bisa terjadi di masa depan dengan Venezuela,” katanya.
Sebelum operasi, Chavez mengaku menghadapi risiko dan menunjuk Maduro sebagai penggantinya. Dia meminta pendukungnya memilih Maduro jika pemilu baru diperlukan.
Mantan Wapres Elias Jaua mengatakan, hanya Chavez yang akan memutuskan apa yang akan dilakukan pada 10 Januari.