Oposisi Tuntut Kebenaran

Kompas.com - 04/01/2013, 03:16 WIB

Caracas, Kamis - Oposisi Venezuela, Rabu (2/1), menuntut pemerintah untuk mengungkapkan kondisi Presiden Hugo Chavez yang sesungguhnya. Mereka mengkritik upaya Caracas menutupi kondisi kesehatan Chavez.

Lebih dari tiga pekan setelah menjalani operasi kanker keempat di Havana, Kuba, belum jelas bagaimana kondisi Chavez (53) sesungguhnya. Tekanan kepada pemerintah meningkat untuk menjelaskan keadaan kesehatannya secara rinci.

Pemimpin koalisi oposisi MUD, Ramon Guillermo Aveledo, mengatakan, informasi yang diberikan pejabat pemerintah tidak mencukupi. Ia menuduh pemerintah tidak bertanggung jawab dengan mencoba memperlihatkan seakan-akan Chavez menjalankan tugas resminya, padahal dia menjalani masa pemulihan yang sulit di Kuba.

”Penting bagi pemerintah untuk bertindak dengan cara yang menumbuhkan kepercayaan dan menceritakan hal sebenarnya,” katanya.

Aveledo mengimbau pemerintah agar mengumumkan ”diagnosis dan prognosis medis” mengenai kondisi Chavez.

Chavez tidak muncul di televisi atau radio sejak operasi pada 11 Desember. Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Selasa, mengatakan, kondisi presiden itu tetap ringkih karena komplikasi dari infeksi pernapasan.

Menteri Ilmu Pengetahuan Jorge Arreaza, yang juga menantu Chavez, mengatakan, kakak Chavez, Adan Chavez, tiba di Havana, Rabu. ”Kami bertemu dengan dia, Wapres Maduro, dan Jaksa Agung Cilia Flores,” kata Arreaza lewat sebuah pesan di Twitter.

”Tim medis menjelaskan kepada kami bahwa kondisi Presiden Chavez tetap stabil dalam keadaan ringkihnya,” ujarnya.

Maduro dan pejabat pemerintah lain mendesak rakyat Venezuela agar tidak menghiraukan kabar angin mengenai kondisi Chavez.

Aveledo mengatakan, oposisi bersikap hormat selama Chavez sakit. Sumber kabar angin itu justru menambah ketidakpastian dan menyebabkan kebingungan. Ia mengulangi imbauan oposisi agar mengeluarkan laporan medis.

Menentukan

Kondisi Chavez amat menentukan situasi politik negeri itu karena pada 10 Januari dia akan dilantik kembali sebagai presiden setelah memenangi pemilu pada November. Aveledo mengatakan, semua indikasi memperlihatkan Chavez tak bisa menghadiri pelantikannya.

Kalau Chavez tak bisa dilantik, konstitusi Venezuela menyebutkan, Ketua Majelis Nasional harus mengambil alih pemerintahan sementara sampai pemilu baru diadakan.

Kecemasan tak hanya dirasakan di dalam negeri. Sejumlah negara tetangga dengan pemerintahan sosialis, seperti Bolivia dan Ekuador, yang bergantung pada dukungan Venezuela, juga ikut cemas jika terjadi krisis politik di Caracas.

Presiden Bolivia Evo Morales, salah satu sekutu terdekat Chavez, mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah berbicara dengan keluarga Chavez.

”Situasi saudara kita Presiden Chavez sangat mengkhawatirkan. Saya mencoba menghubungi wakil presiden, tetapi sulit. Saya harap tujuan mereka untuk menyelamatkan nyawa Presiden Chavez tercapai,” katanya.

Krisis politik di Venezuela juga bisa berakibat lebih luas karena Venezuela adalah penghasil minyak terbesar di dunia, dan memiliki cadangan minyak terbukti yang terbesar di dunia.

Di Brasil, pejabat istana kepresidenan, Planalto, mengatakan, Brasilia mengikuti keadaan Chavez. ”Tidak ada alasan untuk khawatir, sesuatu yang luar biasa bisa terjadi di masa depan dengan Venezuela,” katanya.

Sebelum operasi, Chavez mengaku menghadapi risiko dan menunjuk Maduro sebagai penggantinya. Dia meminta pendukungnya memilih Maduro jika pemilu baru diperlukan.

Mantan Wapres Elias Jaua mengatakan, hanya Chavez yang akan memutuskan apa yang akan dilakukan pada 10 Januari. (AFP/AP/Reuters/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau