JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan akan bergerak turun, Jumat (4/1/2013), setelah kemarin mencetak rekor tertinggi dalam sejarah. Penurunan ini umum terjadi karena perilaku ambil untung sejumlah investor.
Sentimen negatif juga datang dari bursa global semalam waktu Indonesia. Indeks-indeks di bursa Wallstreet melemah, selain karena ambil untung, juga karena berita The Fed akan menghentikan pembelian surat utang di akhir tahun ini.
Indeks Dow Jones industrial average turun tipis 0,16 persen ke level 13.391, Indeks S&P 500 melemah 0,21 persen ke level 1.459 dan Indeks Nasdaq turun 0,38 persen ke level 3.100.
IHSG kemarin ditutup naik 52,78 poin (1,21 persen) dan nyaris tembus level 4.400. Indeks ditutup di level 4.399,26 dengan jumlah transaksi sebanyak 10,7 juta lot atau setara dengan Rp 6,11 triliun. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih di pasar reguler sebesar Rp 632,09 miliar dengan saham yang paling banyak dibeli adalah ASII, BBRI, UNTR, SMCB, dan UNVR. Mata uang rupiah terapresiasi ke level Rp 9.653 per dollar AS.
Secara teknikal, menurut riset eTrading Securities, kenaikan IHSG merupakan suatu breakout dari resistance sebelumnya sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (highest high). Namun yang perlu diperhatikan adalah breakout ini tidak disertai dengan candle volume yang cukup. Oleh karena itu, besar kemungkinan IHSG akan mengalami penurunan untuk menguji partial decline pada pattern broadening top yang sedang terbentuk saat ini.
Dengan resistance pada 4.425 menggunakan 127 persen Fibonacci extention dan support 4.340. Adapun saham-saham yang dapat diperhatikan adalah ASII, BBRI dan GGRM.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang