Shanghai Menggenang Dalam Kabut...

Kompas.com - 04/01/2013, 14:05 WIB

Oleh Putu Fajar Arcana

Shanghai seperti menggenang dalam kabut malam itu. Cuaca awal musim dingin membawa gigil sampai ke lantai 94 Shanghai World Financial Center (SWFC). Sesekali bahkan gerimis turun mengantarkan tempias sampai ke teras kafe. Di ketinggian kota ini, tubuh kami seperti gerombolan tikus yang kedinginan.

Untunglah Cai Zhanyi, pemandu kami, setengah memaksa naik ke ketinggian gedung yang dibangun tahun 1997 itu. Padahal seorang petugas sudah memberi info, malam itu cuaca Shanghai kurang bersahabat, banyak kabut dan kemungkinan lanskap kota kurang bagus. ”Bagaimana apakah kita untung-untungan saja naik?” tanya Cai, dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Beberapa anggota rombongan Black Innovation Awards Incentive Tour ragu-ragu meneruskan perjalanan. Sekali lagi Cai Zhanyi meyakinkan, ”Kita ada di Shanghai, jangan lewatkan sedetik pun untuk terpejam,” katanya.

Malam itu di awal bulan November 2012, dalam beberapa menit kami sudah berada di ketinggian gedung SWFC. Landmark kota setinggi 492 meter dengan 101 lantai, itu berdiri teguh bagai raksasa di wilayah Pudong, satu distrik baru di belahan utara Shanghai. Dari ketinggian, Shanghai kerlap-kerlip bagai sekumpulan kunang-kunang yang nekat beterbangan menembus kabut.

Seolah bisa terbayangkan di seberang Sungai Huangpu, yang berujung di deras arus Sungai Yangtze, terdapat gugusan kota lama yang dikenal bernama The Bund. Kompleks bangunan di The Bund sudah berdiri pasca-Perang Candu pada akhir abad ke-19. Sejak itu, pelabuhan-pelabuhan penting di daratan China, mulai dipadati kapal-kapal asing dari Inggris, Perancis, Rusia, Jerman, Belanda, dan Jepang.

The Bund bahkan dibangun sebagai wilayah asing, yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang pribumi. ”Ini seperti negara dalam negara. Semua karena China kalah dalam Perang Candu,” tutur Cai, teman setia kami selama di Shanghai.

Siang hari sebelum naik ke puncak SWFC, kami sempat mengunjungi The Bund. Pemerintah Kota Shanghai membangun plasa setinggi 10 meter dari permukaan jalan di delta Sungai Huangpu. Sebenarnya plasa ini berfungsi sebagai tanggul yang membentengi The Bund dari kemungkinan gerusan banjir, sebagaimana pernah terjadi pada periode awal tahun 1980-an. Kini tanggul itu hadir sebagai plasa untuk membidik The Bund dengan lensa kamera. Pemandangan yang benar-benar berbeda dari kebanyakan bangunan tua di China.

The Bund pada awalnya adalah permukiman orang-orang Inggris dan Amerika Serikat di China dengan 52 bangunan dengan arsitektur bergaya eklektik, paduan antara roma, gothic, renaisans, barok, neo-klasik, dan art deco. Kompleks permukiman ini seperti sebuah koloni Eropa di tengah-tengah bangunan-bangunan oriental. Kini The Bund difungsikan sebagai markas lembaga-lembaga keuangan dunia serta perkantoran perusahaan-perusahaan multinasional. Wilayah ini kini sudah kembali ke pangkuan negeri China.

Tiga peradaban

Tak jauh dari The Bund, di seberang Sungai Huangpu, kota baru atau Pudong menjadi penanda bahwa Shanghai terus berkembang. Pudong menjadi ”kota” yang dibangun pemerintah untuk mengakomodasi tuntutan perkembangan peradaban. Sebagai kota, yang kemudian menjadi salah satu persinggahan terpenting kapal-kapal dagang internasional, Shanghai tumbuh menjadi begitu ”seksi”.

Lalu dari ketinggian SWFC kabut yang melayang seperti mengantarkan kita pada Yu Yuan Garden, yang berlokasi di Anren Jie. Taman ini menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan dari seluruh dunia, terutama Indonesia.

”Setiap tahun 28.000 orang Indonesia ke Shanghai dan selalu singgah di Yu Yuan Garden,” tutur Cai Zhanyi, yang minta namanya ditulis sebagai Candra.

Cai pemandu orang-orang Indonesia dengan bahasa Indonesia yang baik, tetapi belum sekalipun datang ke Indonesia. ”Suatu kali saya ke negeri Anda...” begitu tekadnya.

Orang Indonesia, ciri khasnya, kata Cai, sering kali hilang kalau sedang mengunjungi Yu Yuan Garden. Taman yang dibangun saat Dinasti Ming (1368-1644), ini letaknya di tengah-tengah pasar yang menjajakan segala jenis suvenir serta makanan-makanan khas China. ”Sering tamu saya hilang karena sibuk belanja ha-ha-ha....” ujar Cai dengan maksud bergurau.

Yu Yuan Garden seperti hadir menjadi angker bagi tumbuhnya tiga babakan peradaban di Shanghai. Masa-masa klasik Shanghai ditandai dengan bangunan-bangunan bergaya oriental seperti Yu Yuan Garden, lalu masa kolonialisme bisa ditemukan di The Bund, sedangkan zaman kontemporer diwakili gugusan kota di Pudong. Dan inilah yang kemudian menjadi ciri khas Shanghai, yang tidak ditemukan di kota-kota lain di daratan China, termasuk Beijing, ibu kota Negeri Tirai Bambu ini.

Semakin malam cuaca tak lagi bersahabat. Kini hampir seluruh Shanghai diselimuti kabut disertai angin dan gerimis. Saya mengeratkan syal dan jaket yang membungkus tubuh. Sudah waktunya turun dari ketinggian gedung pencakar langit ini. Mungkin dalam mimpi malam ini, Shanghai tetap menggenang dalam kabut. Lalu kenangan jatuh menjadi gerimis yang membasahi November....

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau