Ketika Nelayan Mengeluh ke Presiden

Kompas.com - 04/01/2013, 14:31 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com - Para nelayan yang tinggal di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, mengeluhkan minimnya pasokan solar. Akhirnya, nelayan harus mengeluarkan dana lebih untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) eceran.

Keluhan itu disampaikan nelayan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan kunjungan kerja, Jumat (4/1/2013).

Ikut dalam kunker Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Syarief Hasan, Menteri Pendidikan M Nuh, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Ikut pula Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

Menurut salah satu pengurus desa setempat, selama ini pasokan solar tak sampai setengah dari kebutuhan bulanan. Akhirnya, nelayan terpaksa membeli solar eceran dengan harga Rp 5.500 per liter.

"Sudah dua tahun diusulkan ditambah tapi sampai sekarang enggak ada," kata salah satu warga.

Presiden mengatakan, distribusi BBM bersubsidi memang diatur lantaran adanya kuota yang ditetapkan pemerintah bersama DPR. Namun, jika memang pasokannya jauh dari kebutuhan, kata Presiden, hal itu akan ditambah.

"BBM memang dijatah oleh DPR, sementara rakyat perlu banyak. Insya Allah akan ditambah," kata Presiden. Kepada Presiden, Karen juga berjanji akan menambah pasokan solar untuk perkampungan itu.

Warga juga mengeluhkan tidak adanya pemecah ombak di pinggir pantai. Jika gelombang air laut kencang, perahu yang disandarkan di dermaga berbenturan hingga akhirnya rusak.

Presiden mengatakan, membangun pemecah gelombang membutuhkan biaya yang besar. Meski demikian, dia meminta PU untuk membangun agar warga tenang. "Satu sampai dua bulan lagi akan dicek dan akan dibangun," kata Presiden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau