Chavez Bisa Memerintah Tanpa Disumpah

Kompas.com - 05/01/2013, 15:31 WIB

CARACAS, KOMPAS.com - Pemerintah Venezuela menyatakan Presiden Hugo Chavez bisa memulai pemerintahan barunya pada Kamis (10/1/2013) depan, sekalipun bila dia terlalu sakit untuk menghadiri upacara pengambilan sumpah.

Wakil Presiden Nicolas Maduro mengatakan Mahkamah Agung bisa mengambil sumpah Chavez di waktu lain, seperti dilaporkan BBC, Sabtu (5/1/2013).

Maduro juga mengabaikan seruan kelompok oposisi tentang perlunya pemilihan umum baru jika Chavez tidak bisa dilantik.

Chavez sendiri masih berada di Kuba untuk menjalani perawatan pascaoperasi kanker.

Dia tidak muncul di hadapan publik sejak menjalani operasi tersebut lebih dari tiga minggu lalu.

Para pengamat memiliki interpretasi sendiri tentang kemungkinan Chavez tidak bisa menghadiri pelantikannya sebagai presiden untuk masa jabatan berikutnya.

Beberapa kalangan di pihak oposisi mengatakan jika Chavez masih berada di Kuba, kekuasaan seharusnya diserahkan pada ketua parlemen dan pemilu baru segera dilaksanakan dalam waktu 30 hari.

Namun Maduro mengatakan, bahwa Kamis (10/1/2013) bukanlah tenggat waktu yang pasti dan tidak ada alasan untuk menyatakan "ketidakhadiran pasti" Chavez dari jabatannya.

"Formalitas pelantikan ini bisa diselesaikan di Mahkamah Agung," kata Maduro.

"Presiden saat ini masih presiden," katanya sambil mengacungkan buku kecil konstitusi.

"Jangan membuat masalah dengan rakyat. Hormatilah demokrasi," tegasnya.

Pemimpin koalisi oposisi utama, Ramon Guillermo Aveledo, mengatakan pemerintah "tidak ingin mengaku bahwa presiden tidak hadir."

"Versi resmi dari yang sedang terjadi adalah adanya ketidaksinambungan," katanya kepada wartawan.

Para pejabat mengatakan presiden berusia 58 tahun itu mengalami komplikasi akibat infeksi paru-paru serius yang muncul setelah operasi terakhirnya.

Wapres Maduro mengatakan presiden "berhak untuk beristirahat dan menikmati ketenangan, serta memulihkan kesehatan."

"Panglima kita akan sehat kembali," ujarnya.

Maduro dan Ketua Majelis Nasional Diosdado Cabello menjenguk Chavez di Kuba beberapa waktu lalu. Mereka didampingi sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Maduro mengatakan Chavez dalam kondisi sadar dan bisa menggenggam tangannya dengan erat ketika mereka mendiskusikan politik Venezuela.

Dia dan Cabello membantah rumor adanya perpecahan di tubuh pemerintah sosialis itu. "Kami lebih bersatu dari sebelumnya," kata Maduro, yang ditunjuk oleh Chavez untuk menjadi penerusnya.

"Kami bersumpah di hadapan Panglima Chavez bahwa kami akan bersatu mendampingi rakyat kita," ujar Maduro tak lama setelah tiba dari Kuba.

Majelis Nasional dijadwalkan bertemu pada Sabtu ini untuk memilih ketua baru. Cabello diperkirakan bakal terpilih kembali.

Dia meminta para pendukung Chavez untuk berkumpul di luar gedung parlemen selama pertemuan itu berlangsung.

"Jika oposisi mengira mereka akan mendapat ruang di Majelis Nasional untuk bersekongkol melawan rakyat, mereka kembali salah," kata Cabello melalui Twitter.

"Oposisi akan kalah." tegasnya.

Chavez terpilih kembali untuk masa jabatan keempat sebagai presiden pada Oktober 2012 lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau