Kecelakaan Lalu Lintas Ancam Integritas Jiwa

Kompas.com - 06/01/2013, 14:24 WIB

KOMPAS.com - Kasus kecelakaan yang melibatkan Rasyid Rajasa anak dari menteri sekaligus besan pak SBY memang menjadi bahan perbincangan hangat minggu ini. Kasus kecelakaan yang setiap hari terjadi di Jabodetabek menjadi berbeda karena melibatkan anak pembesar alias pejabat yang menjadi salah satu pelakunya.

Berbagai media menampilkan berita terkait kecelakaan tersebut. Ada yang menuliskannya dengan cukup baik, ada juga yang menulisnya berlebihan atau istilah anak muda sekarang "lebay". Ada beberapa wartawan yang sibuk "ngurusin" harga kamar di rumah sakit tempat Rasyid menginap, ada yang menulis tentang saksi mata yang berhubungan dengan kecelakaan ini, ada juga yang menulis rasyid yang sederhana yang suka naik sepeda saat di London?

Apa hubungannya dengan kecelakaan yang terjadi antara mobil mewah BMW dengan mobil kelas menengah Luxio itu? Tetapi namanya kecelakaan yang melibatkan anak pejabat dan kebetulan memang sedang jadi berita, maka apapun bisa ditulis oleh wartawan.

Kemarin saya dihubungi oleh salah satu wartawan untuk dimintai pendapat mengenai masalah gangguan kejiwaan yang biasanya dialami oleh para korban kecelakaan baik pelaku yang menabrak atau yang ditabrak. Hal ini memang tidak terlepas dari salah satu "statement" bapak Hatta Rajassa saat konfrensi pers yang mengatakan bahwa Rasyid terguncang jiwanya karena kecelakaan tersebut dan mengalami trauma psikologis.

Reaksi stres akut sampai stres pascatrauma

Kejadian yang tiba-tiba dan tidak diharapkan seperti kecelakaan memang bisa menyebabkan masalah pada korban yang mengalaminya. Pelaku yang menabrak atau korban yang ditabrak sebenarnya adalah sama-sama korban dalam kejadian kecelakaan. Keduanya bisa mengalami masalah kejiwaan akibat efek dari kecelakaan tersebut. Kecelakaan yang kerap mengancam jiwa dan menimbulkan kerugian material memang tidak dapat dipungkiri menjadi sumber stres bagi para korbannya. Trauma fisik akibat kecelakaan seperti luka-luka atau memar bisa sembuh dalam waktu tertentu, namun jangan lupakan trauma psikologis yang bisa terjadi selanjutnya jika tidak dikenali dengan baik.

Reaksi stres akut adalah gangguan kejiwaan yang paling sering dialami oleh para korban kecelakaan. Bingung, takut dan perasaan tidak berdaya bisa segera datang setelah kecelakaan terjadi. Inilah yang sebenarnya sering dilupakan oleh para petugas yang menangani kecelakaan. Alih-alih menenangkan korban kecelakaan, kebanyakan korban malah dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan di saat baru saja kejadian berlangsung.

Jawaban yang kadang sulit keluar merupakan respon "shock" yang masih dialami oleh korban. Untuk itu petugas yang menangani kecelakaan perlu memahami hal ini dan memberikan kesempatan untuk menenangkan diri para korban terlebih dahulu. Apalagi jika korban mengalami trauma fisik yang sifatnya gawat darurat, lebih baik sekali jika penanganan trauma fisiknya diberikan terlebih dahulu.

Kecelakaan yang terkadang mengancam jiwa dan bahkan membuat orang lain terluka atau meninggal bisa menimbulkan efek psikologis lanjutan yang panjang. Ancaman terhadap integritas diri bisa membuat orang tersebut mengalami gangguan stres pasca trauma. Tidak jarang orang yang menjadi korban kecelakaan yang hampir merengut nyawa bisa mengalami trauma psikologis berkepanjangan. Adaptasi psikologis yang sulit berkembang dan perasaan bersalah karena telah menimbulkan luka atau meninggalnya seseorang, pada beberapa orang akan menimbulkan masalah psikologis yang berat. Kemungkinan terbayang-bayang akan peristiwa tersebut sampai mengalami mimpi buruk berulang atau menjadi ketakutan berkendara adalah hal yang bisa terjadi.

Kasus yang terjadi pada Rasyid sebenarnya juga telah banyak dialami oleh korban-korban kecelakaan lain namun luput dari liputan media. Data korban yang disampaikan kepada masyarakat lebih banyak merupakan kerugiaan yang bersifat fisik dan material. Lihat saja laporan kecelakaan lalu lintas di jalan tol, hanya menuliskan jumlah kecelakaan, berapa korban meninggal dan korban luka-luka. Tidak pernah ada tulisan korban yang mengalami trauma psikologis akibat kecelakaan tersebut. Semoga, ke depan kasus yang menimpa Rasyid menjadi pelajaran buat kita semua bahwa bukan hanya penanganan trauma fisik yang penting pada kasus kecelakaan namun juga penanganan trauma psikologisnya.

Salam Sehat Jiwa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau