Monyet Resahkan Warga Kota Bambu Utara

Kompas.com - 08/01/2013, 01:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Baru sekitar tiga hari Ujang Bani (47) tinggal di rumah kakaknya yang terletak di Jalan Katalia Timur 1 RT 008/07 No 18 Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat. Ia datang dari Bekasi untuk membetulkan lantai dua rumah kakaknya.

Senin (7/1/2013)  pagi, seperti biasa, saat azan Shubuh menggema, ia menjalankan shalat di masjid. Seusai shalat, ia teruskan dengan membaca Al Quran.

Setelah itu, ia naik ke lantai dua rumah yang tidak memiliki atap. Tiba-tiba, seekor monyet menyergap dan menggigit tengkuk belakang leher Bani. Ia pun kaget dan menarik binatang tersebut dan melemparnya. Tangan kanan Bani tak luput dari gigitan si kera ganas.

Merasa kesal, Bani pun melempar monyet tersebut dengan menggunakan kipas angin yang berada dekat dengannya. Karena dilempar, monyet tak bertuan pun kabur melarikan diri dengan meloncat ke dinding rumah tetangga.

Bani yang terus mengeluarkan darah akibat digigit dan dicakar kera segera berobat ke rumah sakit. Keluarga membawanya ke rumah sakit Tarakan, Jakarta Pusat, untuk mendapatkan beberapa jahitan di bagian lukanya. Ia mengalami luka gigitan dan cakaran monyet yang lumayan serius.

Bani harus menerima 18 jahitan di bagian tengkuk belakangnya. Tangan kanannya pun mengalami hal yang sama, jahitan dalam sebanyak 3 jahitan dan bagian luar 4 jahitan. "Saya dijahit di leher dan tangan. Baju saya juga kena darah semua," kata Bani.

Ternyata, tak hanya Bani yang menerima keberingasan sang monyet. Korban lainnya yang terkena luka cakaran dan gigitan kera adalah Abdul juga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan akibat luka yang ia derita. Hal yang sama juga dirasakan Mansur dan Supatmi warga RT 11 RW 7 Kota Bambu Utara.

"Sudah banyak yang jadi korbannya. Mungkin lebih dari 10 orang. Kalau yang sudah lama digigit, mereka pulang kampung. Takut rabies katanya. Tapi yang paling parah memang Pak Bani. Yang digigit tadi pagi," kata Samsu, warga RT 04 RW 07 Kota Bambu Utara.

Menurutnya, warga merasa resah dengan lepasnya monyet tersebut. Monyet tak bertuan itu sebenarnya biasa diikat di depan pangkalan ojek RW 7. Namun, beberapa hari sebelum Natal, monyet lepas dari ikatannya dan hidup liar di permukiman warga.

"Lepasnya sudah hampir sebulan, tapi beringasnya baru minggu-minggu ini saja," kata Samsu, .

Warga pernah menembakkan monyet tersebut dengan menggunakan senapan angin, tetapi peluru senapan angin tak membuat monyet jera.

"Saya sudah pernah tembak pakai peluru angin. Kena perutnya, tapi keranya nggak kenapa-kenapa dan tetep nggak bisa ditangkap," ungkap Samsu.

Karena meresahkan warga, pihak kepolisian Polsek Palmerah akhirnya menurunkan anggotanya. Monyet yang diperkirakan berusia 7 tahun tersebut akan ditembak menggunakan peluru bius supaya tak lagi meresahkan warga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau