Seluruh Asumsi Makro 2012 Meleset dari Target

Kompas.com - 08/01/2013, 06:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gejolak ekonomi global rupanya berdampak pada kondisi makro Indonesia. Akibat guncangan ekonomi global, seluruh asumsi dasar ekonomi makro dalam APBNP 2012 meleset dari target.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sepertinya hanya akan mencapai 6,3 persen atau lebih rendah ketimbang asumsi yang dipatok dalam APBNP 2012 yang sebesar 6,5 persen. Sementara itu, realisasi inflasi hanya sebesar 4,3 persen atau lebih rendah dari asumsi yang dipatok dalam APBNP 2012 sebesar 6,8 persen.

Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menambahkan, tak seperti tahun 2011 lalu yang realisasi pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 6,5 persen, realisasi pertumbuhan ekonomi 2012 diperkirakan hanya 6,3 persen. " (Penyebabnya) ada koreksi di net ekspor kita yang mengalami penurunan," katanya, Senin (7/12/2013).

Ia menambahkan, kenaikan investasi yang terjadi pada tahun 2012 juga berdampak pada tingginya impor bahan baku/penolong dan impor barang modal. Karena itu, Anny mengatakan, ke depan, pemerintah perlu melihat keterkaitan investasi terhadap penguatan sektor industri sehingga pengembangan investasi ke depan perlu memperhatikan ketersediaan komponen bahan baku di dalam negeri.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro menambahkan, realisasi pertumbuhan ekonomi yang hanya 6,3 persen salah satunya disebabkan oleh rendahnya penyerapan belanja modal pemerintah. "Kalau belanja modal bisa diserap dengan baik, pendapat kami, pertumbuhan ekonomi minimal bisa mencapai 6,4 persen-6,5 persen pada tahun 2012," ungkapnya.

Catatan saja, hingga akhir tahun, realisasi belanja modal hanya sebesar Rp 140,2 triliun atau 79,6 persen dari pagu APBNP 2012 yang sebesar Rp 176,1 triliun. Padahal, pada tahun 2011 lalu, realisasi belanja modal bisa mencapai 83,6 persen dari pagu anggarannya dalam APBNP 2011.

Agus menambahkan, realisasi nilai tukar rupiah juga meleset dari asumsi. Dalam APBNP 2012, pemerintah mematok asumsi nilai tukar sebesar Rp 9.000 per dollar AS, tetapi realisasinya meleset menjadi Rp 9,384 per dollar AS. Sepanjang tahun 2012, nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 6,9 persen dibanding rata-rata tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8.779 per dollar AS.

Suku bunga SPN 3 bulan realisasinya hanya 3,2 persen lebih rendah dari asumsinya yang sebesar 5 persen. Sementara itu, realisasi harga minyak mentah Indonesia alias ICP meleset menjadi 112,7 dollar AS per barrel, lebih tinggi dari asumsi APBNP 2012 yang sebesar 105 dollar AS per barrel. "Lifting minyak mentah juga meleset menjadi 861.000 barrel per hari, lebih rendah dari asumsi APBNP 2012 yang sebesar 930.000 barrel per hari," kata Agus. (Herlina KD/Kontan)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau