5 Kesalahan Diet yang Terus Terulang

Kompas.com - 09/01/2013, 07:02 WIB

KOMPAS.com - "Saya makan banyak  sayuran, kok saya berat badan tak juga turun!"  begitu protes seorang  perempuan. Apakah hal ini juga Anda hadapi? Bila iya, mungkin Anda masih tergelincir pada kesalahan diet yang berulang.  

1. Tidak menghitung kalori

Jangan mentang-mentang biji-bijian dan kacang-kacangan baik bagi kesehatan Anda, lalu Anda boleh makan satu toples.  Tentu saja mereka sangat penting bagi kesehatan Anda, namun mengasup dalam jumlah besar juga bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Diet bukan berarti juga Anda mengasup semangkuk besar salad yang terendam mayones banyak-banyak. Cari tahu porsi harian Anda yang seharusnya. Berikut gambaran kasar kalori untuk perempuan yang bertubuh sedang dengan bobot 70 kg dan berolahraga jalan kaki 30 menit dua kali seminggu:
• 4 porsi sayuran (1 porsi = 1 cangkir tanpa kuah)
• 4 porsi biji-bijian (1 porsi = sepotong roti gandum atau setengah cangkir nasi merah)
• 4 porsi protein tanpa lemak (1 porsi = 3 ons daging atau setengah cangkir kacang)
• 4 porsi lemak sehat (1 porsi = 1 sendok makan minyak atau seperempat alpukat)

2. Memusuhi satu (hingga tiga) kelompok makanan
Banyak perempuan menghilangkan satu jenis makanan tertentu demi memangkas lemak dalam tubuh. Misalnya karbohidrat atau lemak. Tetapi hal ini jika dilakukan dengan ekstrim akan menimbulkan masalah gizi tak seimbang. Akibatnya justru penambahan berat badan, kelelahan, lekas marah, dan masalah pencernaan. Anda perlu pendekatan gaya makan dengan prinsip tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak.

3. Tidak cukup makan
Sangat mudah untuk tergoda hanya makan sedikit demi bobot turun cepat.  Hal ini justru akan menyedot energi, mengacaukan suasana hati Anda, dan memaksa tubuh Anda untuk membakar otot untuk bahan bakar - yang akibatnya memperlambat metabolisme Anda.  Sebuah studi menemukan bahwa ketika orang makan hanya satu kali makan besar, mereka menaikkan risiko pradiabetes. Makanlah setiap tiga sampai lima jam.

4. Gampang berpaling pada “comfort food”
Kebanyakan dari kita saat sedang merasa tertekan, stres atau bosan akan melarikan diri pada makanan yang menenangkan.  Comfort food berbeda-beda jenisnya bagi setiap orang, ada yang menyukai makanan asin, manis, atau creamy. Selain itu, balas dendam setelah berdiet ketat juga masih sering dilakukan. Setelah sebulan menahan makanan yang Anda kategorikan terlarang, Anda memaafkan diri dengan boleh mengasupnya sesekali. Tapi dalam jumlah yang akhirnya malah tak terkontrol. Intinya sebenarnya adalah diet pola makan yang teratur. Kalau Anda tipe yang sulit membatasi diri, kembali saja pada aturan awal makan tak berlebih. Dan saat ingin mengemil ingat-ingat, apakah ini sudah waktunya Anda mengasup snack atau Anda hanya sedang bosan dan resah.

5. Ingin hasil yang cepat

Seperti fashion, diet pun juga ada trennya. Biasanya saat satu jenis diet tertentu booming semua orang akan mencobanya. Dan yang paling diikuti adalah diet yang menjanjikan penurunan berat badan yang drastis.  Bahayanya, diet drastis ini justru  membuat tubuh Anda membakar kalori lebih lambat. Selain itu dapat menyebabkan keluhan fisik seperti sakit kepala, kemurungan, kelelahan, dan, tentu saja, penurunan berat badan hanya sementara.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau