DPR Batal Gelar Tes Urin terhadap Calon Hakim Agung

Kompas.com - 10/01/2013, 15:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melakukan seleksi terhadap 24 calon hakim agung hari ini, Kamis (10/1/2013). Seleksi dimulai dengan pembuatan makalah hakim agung gelombang pertama. Sementara itu, rencana untuk melakukan tes urine pada calon hakim agung tersebut batal dilakukan.

"Ketika dikaji lebih mendalam, itu dianggap terlalu berlebihan untuk fungsi kita di DPR. Tes itu sebenarnya sudah selesai di Komisi Yudisial," ujar Ketua Komisi III DPR Gede Pasek Suardika di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, tes kesehatan para calon hakim agung ini tidak dapat disamakan dengan tes kesehatan pada umumnya. "Kami melihat itu terlalu berlebihan karena para hakim agung usianya sudah relatif sepuh. Dengan demikian, menilai kadar kesehatan para hakim agung berbeda dengan para atlet," katanya.

Setelah adanya masalah pada beberapa hakim agung, Komisi III mengaku akan lebih ketat melakukan penyeleksian. Untuk itu, kata Pasek, rekam jejak para calon telah ditelusuri dengan teliti. Namun, masyarakat yang pernah berurusan langsung dengan para calon hakim pun diminta ikut andil memberikan rekam jejak 24 calon hakim agung tersebut.

"Mereka yang pernah mungkin dirugikan, diperas, silahkan beri masukan pada kami sehingga bukti-bukti itu bisa menjadi bahan utama kita untuk mengkaji," ujarnya.

Para calon hakim agung ini akan dipilih untuk mengisi 8 kursi hakim agung yang telah pensiun. Menurut Indra, proses seleksi hari ini akan diawali dengan pembuatan makalah dari para calon hakim agung. Pada 14-16 Januari 2013, seleksi sudah mulai memasuki tahapan uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau