Tim nasional

Pro Duta Simulasikan Pola Permainan Irak Lawan Timnas

Kompas.com - 15/01/2013, 03:37 WIB

Jakarta, Kompas - Tim nasional senior yang dipersiapkan menghadapi kualifikasi Piala Asia 2015 akan menjalani laga uji coba pertama akhir pekan ini. Tim polesan pelatih Nil Maizar ini akan menghadapi Pro Duta, yang akan menerapkan pola permainan Irak, pada Sabtu (19/1).

Anggota Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy, Senin (14/1), menjelaskan, Nil Maizar dan Pelatih Pro Duta Roberto Bianchi sudah membahas teknis dan target dari uji coba ini. Pro Duta akan bermain seperti Irak yang lihai melepaskan umpan silang.

”Dari analisis rekaman pertandingan Irak, mereka banyak melakukan crossing (umpan silang) memanfaatkan postur tubuh pemain yang tinggi. Pro Duta akan bermain seperti Irak dan tim nasional bermain menekan supaya mereka tidak bisa main crossing,” ujar Bob Hippy.

Bob Hippy menilai, uji coba ini lebih merupakan control game yang bisa dihentikan sewaktu-waktu untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan pemain dalam menjalankan strategi.

Indonesia akan menghadapi Irak pada 6 Februari di Doha, Qatar. Tim Indonesia juga akan menjalani uji coba pendahuluan melawan Jordania pada 1 Februari. Para pemain dijadwalkan bertolak ke Amman, Jordania, 28 Januari.

Persiapan tim untuk Pra-Piala Asia ini baru diikuti para pemain dari klub Liga Primer Indonesia (IPL). Sampai Senin malam belum ada satu pemain pun dari klub Liga Super Indonesia (ISL) yang bergabung.

Saat ini ada 24 pemain yang menjalani pemusatan latihan di Medan, Sumatera Utara. Para pemain inti sudah bergabung, seperti pemain sayap Andik Vermansah dan Oktovianus Maniani. Pemain bertahan Raphael Maitimo dijadwalkan bergabung pada Selasa.

Sanksi pemain

”Sampai saat ini ada 24 pemain, semua dari IPL dan belum ada satu pun dari ISL. Menanggapi hal ini, federasi sudah mengirim surat kepada Komite Disiplin, meminta supaya Komite Disiplin untuk menelaah ketidakhadiran pemain, dan jika perlu memberikan peringatan atau hukuman,” ujar Sekretaris Jenderal PSSI Halim Mahfudz.

PSSI, lanjut Halim, sudah mengirimkan surat ke Komite Disiplin (Komdis) dan Komdis pun menindaklanjuti dengan mengirim surat panggilan kepada para pemain supaya menghadap pada 17 Januari. Pada hari itu juga Komdis akan menggelar sidang untuk mendengarkan langsung penjelasan para pemain.

Tim nasional U-23

Selain mempersiapkan timnas Pra-Piala Asia, PSSI juga membentuk tim U-23 untuk SEA Games XVII di Myanmar. Pada Senin siang, PSSI sudah selesai menyusun daftar nama 58 pemain yang akan dipanggil mengikuti seleksi.

Daftar pemain itu akan diajukan ke Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) sebagai koordinator kontingen tim Indonesia. Para pemain dijadwalkan menjalani tes kesehatan dan seleksi mulai 25 Januari di Jakarta.

Manajer Tim Nasional U-23 Edi Nurinda menjelaskan, nama-nama pemain yang dipanggil akan diumumkan pada Selasa siang ini setelah tim pelatih bertemu dengan PSSI. Para pemain yang dipanggil berasal dari kompetisi IPL dan ISL. Semua pemain diharapkan memenuhi panggilan tim nasional dan tidak ada klub yang menghalangi pemainnya membela kepentingan nasional.

Tim U-23 dilatih Aji Santoso dengan asisten Widodo Cahyono Putro dan Liestiadi.

Edi menegaskan, dirinya telah berkoordinasi dengan Satlak Prima mengenai pembentukan timnas U-23. PSSI berharap tidak ada timnas lain karena hanya PSSI sebagai induk olahraga sepak bola yang berwenang membentuk tim nasional. (ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau