Gunung api

Rokatenda dan Ijen Masih Siaga

Kompas.com - 15/01/2013, 03:38 WIB

Jakarta, Kompas - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan, Gunung Rokatenda di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih berstatus Siaga. Masyarakat diimbau tidak berada di sekitar lembah sungai yang berhulu di kubah lava baru, terutama di bagian barat daya dan selatan untuk menghindari aliran awan panas.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, Senin (14/1), mengatakan, kesimpulan itu diambil berdasarkan hasil evaluasi kegempaan dan visual terakhir.

Saat ini, menurut Surono, Gunung Rokatenda masih kerap meletus dengan tinggi asap letusan 800-1.500 meter. Letusan biasanya diikuti guguran dari kubah lava dan awan panas. ”Luncuran awan panas mencapai maksimum sekitar 2,5 kilometer, mengalir dominan ke arah selatan,” katanya.

Pemantauan kegempaan yang dilakukan sampai 13 Januari 2013 mengindikasikan kegempaan Rokatenda didominasi gempa guguran lava pijar. Adapun gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan gempa embusan menunjukkan penurunan.

”Berdasarkan hasil evaluasi kegempaan dan visual, Rokatenda dinilai masih pada status Siaga,” kata Surono.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ratusan warga Palue mengungsi ke Sikka. Sebanyak 319 pengungsi yang tersebar di Ropa, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, mulai memakan batang pisang muda sebagai makanan tambahan. Pengungsi di Maumere turun berdemonstrasi ke Kantor Bupati Sikka. Aksi tersebut bertujuan menuntut perhatian pemerintah terhadap nasib mereka (Kompas, 31/12/2012).

Tim ke Ijen

Terkait dengan sejumlah pelancong yang pingsan saat berwisata di Kawah Ijen, menurut Surono, PVMBG akan mengirim tim untuk meneliti kandungan gas di gunung api itu. Tim akan berangkat pada Selasa (15/1) ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyuwangi melaporkan, sedikitnya tujuh pengunjung mengalami gangguan pernapasan dan pusing saat mendaki Gunung Ijen.

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Ijen sebenarnya dinyatakan Siaga sejak 24 Juli 2012. Sejak itu, pengunjung dilarang mendekati kawah. Namun, larangan ini diabaikan pemerintah daerah karena kepentingan pariwisata dan penambangan belerang. (AIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau