Indonesia Butuhkan 800 Tenaga Navigasi Bandara

Kompas.com - 16/01/2013, 15:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia saat ini membutuhkan 800 tenaga untuk mengurus pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC). Hal ini menyusul penyatuan sistem navigasi bandara di bawah PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II.

"Kita saat ini sudah memiliki 1.000 tenaga untuk mengurus ATC. Namun, kita juga masih butuh 800-an orang lagi untuk mengurus itu," kata Menteri Perhubungan EE Mangindaan di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (16/1/2013).

Menurut Mangindaan, tenaga kerja baru tersebut akan membantu Perum Navigasi yang baru dibentuk, apalagi setelah sistem navigasi di kedua bandara akan disatukan. Menurutnya, penyatuan sistem navigasi di antara kedua otoritas itu memang perlu waktu hingga setahun.

Nanti Kementerian Perhubungan akan membantu teknis penyatuan sistem tersebut. Namun, untuk tenaga kerjanya, Perum Navigasilah yang akan menyediakannya.

"Kita hanya bantu teknisnya. Memang di masa transisi nanti akan ada gangguan sedikit, tapi itu tidak masalah. Ini kan sudah mulai dilakukan sejak lama (penyatuan sistemnya)," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau