Dikepung Banjir, Jakarta Terancam Penyakit

Kompas.com - 16/01/2013, 21:48 WIB

KOMPAS.com - Jakarta tampaknya dilanda musibah banjir hebat mirip banjir besar tahun 2007. Selain banyak faktor yang berpengaruh, faktor cuaca ekstrem membuat curah hujan tidak seperti biasanya. Setelah Jakarta dikepung banjir hebat, ancaman baru datang. Jakarta terancam musibah penyakit pascabanjir.

Air melimpah yang tidak terkendali dan tidak wajar berpotensi menjadi sumber penyakit dan sarana penularan penyakit. Berbagai penyakit itu mulai dari yang ringan hingga penyakit yang mengancam jiwa. Bencana banjir dengan berbagai permasalahannya menyebabkan lingkungan yang tidak sehat. Pascabencana banjir biasanya masyarakat dihadapkan pada masalah lingkuan kotor, lebih kuumuh, sampah menggunung, penyediaan air bersih, terutama di tempat-tempat pengungsian.

Problem kesehatan utama justru diawali dari lingkungan pengungsian yang kumuh dan padat. Minimnya fasilitas penuyediaan air bersih, sedikitnya fasilitas WC umum membuat pengungsi sering buang air besar dan kencing di sembarang tempat. Padahal, perilaku itu mempermudah penularan penyakit. Jumlah manusia yang sangat banyak dan berjejal dalam satu ruangan di pengungsian, memudahkan penyebaran penyakit baik lewat udara maupun kontak langsung. Bayi, anak balita dan ibu hamil adalah korban yang paling menderita. Karena daya tahan tubuh mereka yang sangat lemah, ditambah lagi minimnya asupan makanan yang bergizi.

Gangguan alam itu tidak saja mengancam manusia, tetapi juga binatang. Berbagai binatang seperti tikus, kucing dan anjing dapat mati karena bencana banjir tersebut. Bangkai binatang juga dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Dalam keadaan banjir, banyak masalah kesehatan yang secara bersamaan, berpotensi menimbulkan berbagai penyakit.

Air banjir merupakan sarana yang paling mudah untuk penularan penyakit, karena mau tak mau mereka harus bersentuhan dengan air tersebut. Malah, anak-anak menikmati air banjir untuk berenang dan bermain. Berbagai penyakit yang ditularkan melalui air banjir, antara lain, infeksi saluran cerna, infeksi mata, infeksi pernapasan, infeksi kulit hingga infeksi otak. Penyakit infeksi saluran cerna ditunjukkan lewat gejala demam, diare, dan muntah. Penyakit itu meliputi gastroenteritis karena virus rota, disentri, kolera, tifus, hepatitis A, giardiasis, cryptosporidiosis, bakteri E coli.

Infeksi kulit biasanya dalam bentuk "hot tub rash". Penyebabnya adalah bakteri pseudomonas. Gejalanya berupa kulit yang terasa panas terbakar, gatal dan timbul bintil seperti jerawat kecil kemerah-merahan dan agak melepuh. Penyakit itu disebabkan oleh parasit yang terdapat pada burung dan hewan mamalia lainnya. Parasit tersebut mengontaminasi manusia melalui perantara binatang keong yang terdapat dalam genangan air. Parasit itu menimbulkan rash atau kulit terkelupas.

Infeksi pernapasan yang bisa ditularkan melalui air adalah infeksi tenggorok dan mata belekan yang disebabkan adenovirus. Gejala infeksi saluran napas umumnya berupa demam, batuk atau pilek. Jika kondisi tubuh lemah, infeksi akan berpotensi menjadi pneumonia (radang paru). Meskipun jarang terjadi, penularan penyakit lewat air dapat mengakibatkan infeksi otak. Infeksi susunan saraf pusat yang dapat terjadi adalah infeksi selaput otak atau meningitis aseptik yang disebabkan enterovirus dan infeksi naegleria. Gejala yang terjadi adalah demam tinggi, muntah, kejang dan kesadaran menurun.

Infeksi lain adalah hepatitis A atau penyakit infeksi virus yang terjadi pada hati atau lever. Gejala yang timbul adalah kulit dan mata tampak kuning, mual, muntah, demam dan badan lemas. Leptospirosis adalah infeksi yang disebabkan karena kuman leptospira yang berasal dari air kencing binatang tikus.

Hujan lebat dan aliran air banjir masih deras dapat menghilangkan jentik dan nyamuk penyebab demam berdarah. Tetapi setelah bulan pertama banjir, kasus penyakit demam berdarah cenderung bertambah, karena banyak terjadi genangan air yang berpotensi berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

Identifikasi daerah yang "bersih" atau yang "terkontaminasi" di dalam dan di sekitar rumah dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit. Air sumur dan air keran dapat dianggap berpotensi terkontaminasi, dan sebaiknya tidak digunakan untuk konsumsi, meskipun hanya untuk dimasak atau menyikat gigi. Konsumsi air minum sebaiknya menggunakan air minum dalam kemasan. Gunakan air yang dimasak atau air matang atau air yang dikemas untuk menyirami tangan setelah mencuci tangan dan sebelum memasak. Kebiasaan cuci tangan bila hendak makan dapat menghindari penularan berbagai penyakit.

Banyak penyakit yang tersebar oleh air melalui kotoran yang tidak sengaja masuk ke dalam mulut. Penyiapan makanan di daerah banjir, berkemungkinan besar menyebabkan siklus ini. Makanan yang tersentuh oleh banjir tidak aman untuk dikonsumsi, dan sebaiknya dibuang. Hindari konsumsi sayuran mentah atau yang belum dimasak. Tikus dan lalat sering membawa penyakit yang disebarkan air.

Pencegahan

Berbagai masalah ancaman penyakit tersebut dapat dicegah dengan perilaku individu dan masyarakat dengan hidup sehat dan meningkatkan kebersihan sanitasi.

Simpanlah makanan di luar jangkauan kontaminasi dan tutuplah masakan sebelum disajikan. Penyimpanan makanan yang sudah dimasak untuk jangka waktu yang lama, sebaiknya dihindari kapan pun bisa. Jangan masukan tangan ke dalam sudut ruangan atau lemari yang gelap karena mungkin merupakan tempat sembunyi binatang yang terkena stres dari banjir, seperti tikus, serangga dan binatang peliharaan.

Anak-anak sebaiknya dilarang bermain di daerah banjir yang rawan dan beresiko kecelakaan tinggi. Risiko hanyut dan masuk selokan yang kedalaman menjadi tinggi saat banjir berpotensi menenggelamkan anak-anak balita. Bila tidak bisa dihindari, setelah bermain harus mandi dan cuci tangan yang bersih. Lantai dan dinding di dalam rumah sebaiknya dibersihkan dengan cairan disinfektan, seperti klorin. Mainan seharusnya dicuci dengan disinfektan, boneka kain basah yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan bakteri dan jamur mungkin harus dibuang.

Bila berjalan di dalam air banjir harus memakai sepatu yang beralas keras. Lubang-lubang baru dan sampah-sampah yang tertutup air banjir sebaiknya di antisipasi, untuk mencegah luka di kaki. Luka apa pun yang terletak di kulit sebaiknya diobati dan ditutup dengan perban. Lingkungan yang kotor dan basah dapat mengakibatkan luka terinfeksi, dan penyembuhan bertambah lama. Pengunaan sepatu bot karet untuk jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan infeksi jamur dan luka kaki.

Bila tempat pengungsian sudah terjangkit penyakit menular seperti campak, maka instansi kesehatan seperti puskesmas atau dinas kesehatan harus segera melakukan imunisasi massal di daerah tersebut. Semua lapisan masyarakat dan pemerintah tidak terkecuali harus bahu membahu dalam membantu korban banjir.  Ancaman berbagai penyakit akan menambah beban masalah baru pada korban banjir. Bila terjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa penyakit menular seperti campak, DBD atau diare maka dapat dicegah dengan pemberian imunisasi atau fogging di lokasi tertentu

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau