Nilai tukar

Positif, Beli Dollar AS dari BI

Kompas.com - 18/01/2013, 07:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesepakatan Bank Indonesia dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara agar PT Pertamina dan PT PLN tidak membeli dollar AS di pasar uang, ditanggapi positif. Kebijakan itu diyakini akan efektif, meskipun hasilnya tidak sebaik pada tahun 2008 dan 2011.

Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyatakan, cara serupa pernah dilakukan pada tahun 2008 dan 2011, saat nilai tukar rupiah melemah dan pasokan dollar AS terbatas. ”Namun, kondisi ekonomi saat ini berbeda. Ekspor berkurang, sedangkan impor meningkat,” katanya kepada Kompas di Jakarta, Kamis (17/1/2013)

PT Pertamina dan PT PLN hanya boleh mengadakan dollar AS melalui tiga bank milik negara, yakni Bank BNI, Bank BRI, dan Bank Mandiri. Ketiga bank tersebut akan mendapatkan dollar AS dari BI.

Dengan demikian, baik Pertamina, PLN, maupun tiga bank BUMN itu tidak boleh mencari dollar AS ke pasar uang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pasokan valas di pasar uang yang tipis.

Destry memaparkan, transaksi harian valas di pasar uang bisanya mencapai sekitar 1 miliar dollar AS. Namun, sekarang rata-rata sebesar 500-600 juta dollar AS per hari.

Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan Pertamina. Konsumsi bahan bakar minyak yang meningkat, telah menambah impor minyak. Kebutuhan dollar AS turut melonjak. ”Kebutuhan dollar AS Pertamina ini bisa mendorong pasar uang,” kata Destry.

Kurs tengah BI kemarin menunjukkan, nilai tukar rupiah sebesar Rp 9.690 per dollar AS, sama seperti pada Rabu (16/1/2013). Angka ini menguat dibandingkan Selasa (15/1/2013), yang mencapai Rp 9.740 per dollar AS.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Zulkifli Zaini yang ditanya perihal kesepakatan BI dan BUMN ini menyatakan, kebutuhan valas itu dipenuhi dari devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk melalui Bank Mandiri. ”Kalau bisa dipenuhi dari devisa hasil ekspor. Kalau kurang, akan mengambil sedikit di pasar uang,” katanya.

Namun, Bank Mandiri siap memenuhi pasokan valasnya dari BI, yang harganya diperkirakan tidak jauh dari harga pasar. (idr)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau