TOKYO, KOMPAS.com — Sebuah baterai lithium-ion dari sebuah Boeing 787 Dreamliner, Selasa (22/1/2013), dibawa ke Badan Angkasa Luar Jepang untuk menjalani pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan itu, para ahli berharap bisa menemukan sebab terbakarnya baterai yang terkait dengan sistem elektronik pesawat terbang canggih itu.
"CT scan akan dilakukan di fasililtas milik Badan Eksplorasi Angkasa Luar," kata Menteri Transportasi Jepang Akihiro Ota.
"Dalam pemeriksaan penyebab masalah baterai ini, kami bekerja sama dengan NTSB dan FAA," tutur Ota.
Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) adalah badan yang mengawasi dan menyelidiki beraneka masalah keselamatan transportasi—semacam KNKT di Indonesia.
Sebelumnya, para penyelidik fokus menyelidiki pembuatan baterai yang diproduksi GS Yuasa, sebuah perusahaan yang berpusat di kota Kyoto.
Penyelidikan ini dilakukan setelah sebuah Dreamliner milik All Nippon Airways (ANA) harus mendarat darurat, pekan lalu, setelah baterai yang menjadi tenaga sistem elektronik pesawat itu hangus terbakar.
Para penyelidik sudah meninjau ke pabrik Yuasa, tetapi menegaskan bahwa pemeriksaan ini tidak berarti Pemerintah Jepang menyimpulkan semua masalah Dreamliner akan ditimpakan kepada Yuasa.
Meski demikian, pemeriksaan terhadap Yuasa itu berpengaruh langsung terhadap harga saham Yuasa di bursa Tokyo.
Yuasa, yang juga memiliki kontrak untuk memasok baterai ke Stasiun Angkasa Luar Internasional (ISS), adalah satu dari banyak kontraktor dalam rantai produksi global yang terlibat dalam proyek pengembangan Dreamliner.
Panjangnya rantai produksi inilah yang menjadi salah satu penyebab terlambatnya pengiriman Dreamliner pertama pesanan ANA hingga tiga tahun. ANA baru menerima Dreamliner pertamanya pada 2011.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang