KEN: Larang Mobil Pribadi Pakai BBM Bersubsidi

Kompas.com - 22/01/2013, 19:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai perlu ada langkah kongkrit untuk pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, sebanyak 70 persen BBM bersubsidi dinikmati orang kaya akibat tidak ada pengendalian.

"Jadi kita usulkan untuk yang sekarang ini benar-benar dilakukan (pengendalian). Mobil pribadi tidak boleh (pakai BBM subsidi)," kata Aviliani Sekretaris KEN, di sela-sela sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Sidang kabinet paripurna itu mengagendakan mendengarkan pandangan KEN terkait perkembangan ekonomi kedepan. Sidang kabinet itu dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono. Ikut hadir jajaran menteri, Dewan Pertimbangan Presiden, pimpinan Bank Indonesia, dan pimpinan lembaga pemerintahan non kementerian.

Aviliani mengatakan, semestinya anggaran untuk 70 persen subsidi BBM yang digunakan orang kaya itu bisa dipakai untuk infrastruktur. Setidaknya, kata dia, butuh dana sekitar Rp 2.500 triliun untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Selain itu, tambah dia, anggaran bisa dipakai untuk pengentasan kemiskinan. Setidaknya, saat ini ada 29 juta orang miskin dan 70 juta orang yang rentan miskin. "Sekarang kita belum bisa penuhi itu karena subsidi terlalu besar," pungkas dia.

Seperti diberitakan, Pemerintah tengah mengkaji beberapa opsi pengendalian untuk menghemat konsumsi BBM bersubsidi di 2013 . Salah satu opsinya, yakni pembatasan konsumsi BBM bersubsidi untuk kendaraan pribadi.

Dalam APBN 2013 , kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan sebanyak 46 juta kiloliter. Padahal, jika tanpa pengendalian, konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan mencapai 48 juta kiloliter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau