Algiers Tabuh Genderang Perang Lawan Al Qaeda

Kompas.com - 23/01/2013, 08:35 WIB

ALGIERS, KOMPAS.com - Serangan sekelompok milisi bersenjata binaan Al Qaeda ke ladang gas In Amenas, Aljazair timur, membuat Algiers bersikap lebih keras memerangi terorisme. Aljazair takkan menyerah pada terorisme atau memberi ruang bagi Al Qaeda tumbuh di negeri itu.

Tekad memerangi jaringan Al Qaeda itu disampaikan Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal dalam jumpa pers, Senin (21/1) petang, di Algiers. Pemerintah Aljazair takkan membiarkan terorisme dan Al Qaeda mendirikan ”Sahelistan”, jaringan teroris bergaya Afganistan di padang gurun yang luas di Afrika utara. ”Ini keputusan politik yang tegas,” tutur Sellal.

Sellal menegaskan, insiden penyerangan di In Amenas telah menewaskan 37 sandera asing. Dia menyalahkan seorang warga negara Kanada yang mengoordinasi serangan terhadap fasilitas vital di ladang gas In Amenas.

Mokhtar Belmokhtar, veteran perang yang memimpin operasi itu, mengklaim, serangan itu adalah balasan atas intervensi militer Perancis di Mali utara. In Amenas menjadi target milisi ”Batalion Darah” itu karena Aljazair mengizinkan ruang udaranya digunakan pesawat tempur Perancis menyerang milisi Ansar Dine, juga jaringan binaan Al Qaeda, di Mali utara.

Serangan terhadap industri energi utama Aljazair di In Amenas itu memunculkan pertanyaan tentang keamanan fasilitas yang diambil alih Aljazair dari Perancis, 50 tahun silam itu. Sebelumnya, Aljazair berhasil mencegah pemberontakan tahun 1990-an dan menghindari pergolakan Musim Semi Arab.

Menurut Sellal, warga Kanada bernama Chedad berada di antara 29 anggota milisi yang tewas dan telah mengoordinasikan penyerangan. Tiga anggota milisi yang selamat telah ditahan.

Di antara sandera asing yang telah dikonfirmasikan tewas oleh pemerintahnya adalah 3 warga Amerika Serikat, 7 warga Jepang, 6 warga Filipina, dan 3 warga Inggris. Sellal mengatakan, tujuh dari 37 warga asing tidak dapat diidentifikasi, dan lima warga asing hilang. Hampir 700 warga Aljazair dan 100 pekerja asing lainnya selamat.

Pemerintah asing sebelumnya menyayangkan sikap Algiers yang menyerbu milisi tanpa memperhatikan keselamatan sandera. Namun, belakangan mereka berubah sikap dan menyalahkan teroris atas besarnya korban tewas. Sallel mengatakan, penyandera mengancam akan meledakkan ladang gas itu.

Chafik Mesbah, mantan penasihat keamanan Presiden Aljazair, mengatakan, ”Barat tak mengkritik Aljazair sebab tahu serangan tak terelakkan. Para korban, harga minimum demi mengakhiri krisis.” (REUTERS/AP/CAL)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau