Banjir Surut, Minyak Menempel di Mana-mana

Kompas.com - 23/01/2013, 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, merupakan salah satu kawasan yang dilanda banjir parah. Dari hari pertama banjir melanda, kawasan ini seperti mati. Ketinggian banjir mencapai lebih dari satu meter, toko-toko tutup, dan tidak ada aktivitas warga. Hari ini, Rabu (23/1/2013), banjir di kawasan Glodok berangsur surut. Kawasan yang juga dikenal dengan sebutan Pecinan di Jakarta ini mulai bergeliat kembali. Toko dan rumah makan sudah kembali buka, hiruk pikuk pedagang dan kendaraan berlalu-lalang dengan bebasnya menambah keramaian kawasan ini.

Hiruk pikuk juga terjadi di Wihara Dharma Bhakti di Jalan Kemenangan, Petak Sembilan, Glodok. Di sela- sela umat yang berdoa, pengurus Wihara juga sibuk membersihkan sisa lumpur dan minyak yang memenuhi lantai Wihara. Sejumlah benda yang tidak bisa dipakai lagi karena rusak akibat banjir. Beberapa yang masih bisa dipakai dibersihkan kemudian dijemur.

"Kemarin tingginya hampir 1,5 meter, semua ruangan terendam. Baru kemarin, Selasa, air sudah surut dan kita langsung bersih-bersih. Waktu kemarin itu minyak dan lumpur di mana-mana, lantainya licin. Kalau hari ini sudah 80 persen bersih, tinggal mengganti sejumlah alat elektronik yang rusak akibat banjir," kata salah seorang pengurus Wihara Dharma Bhakti.

Berbeda dengan Wihara Dharma Bakti, Wihara Toasebio yang juga berada di Jalan Kemenangan, Petak Sembilan, masih harus ditutup bagi umat karena air masih menggenang sekitar 30 sentimeter. Pengurus Wihara dibantu sejumlah warga tampak bahu membahu membersihkan. Tampak mereka menggunakan sabun colek dan sikat untuk mengangkat minyak yang menempel di lantai Wihara.

"Hati-hati licin, banyak minyak yang tumpah. saya aja sampai kotor begini," kata seorang penjaga di Wihara Toasebio.

Dia menjelaskan, posisi wihara yang lebih rendah dari jalan membuat air tidak bisa disedot oleh mesin, karena air pasti akan masuk lagi dari Wihara. Satu-satunya harapan adalah menunggu air surut dengan sendirinya. Kondisi terparah ada di dalam Wihara, terdapat minyak di mana-mana. Karena bercampur dengan air banjir yang kotor, minyak dari lilin yang menggumpal mengakibatkan lantai licin.

"Mungkin butuh dua hari baru bisa bersih, tapi tetap saja tergantung curah hujan. Kalau masih hujan, ya berarti masih banjir," katanya lagi.

Berita terkait banjir Ibu Kota dapat diikuti dalam topik:
Banjir Rendam Jakarta

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau