Konflik suriah

Kisah Cinta Yusef dan Ghada di Tengah Perang Suriah

Kompas.com - 25/01/2013, 17:50 WIB

ALEPPO, KOMPAS.com — Cinta memang kekuatan yang paling dahsyat di dunia ini. Bahkan, perang dahsyat yang terjadi di kota Aleppo tak bisa memadamkan cinta antar-anak manusia.

Yusef dan Ghada, dua warga kota Aleppo, Suriah, bertemu lewat situs jejaring sosial Facebook. Keduanya menjalin cinta dan sepakat untuk melanggengkan cinta mereka ke jenjang perkawinan.

Sayangnya akibat konflik bersenjata berkepanjangan di Suriah, tak satu pun pengadilan agama yang beroperasi di Aleppo. Alhasil keduanya memutuskan untuk mengucapkan janji pernikahannya di hadapan seorang komandan pasukan pemberontak Suriah.

"Upacaranya sangat cepat. Kami menandatangani surat, bertukar cincin, dan kami sudah menikah. Bapak komandan (yang juga seorang ulama) nampaknya terlalu sibuk untuk membacakan kami ayat-ayat Al Quran," kata Yusef (26) sambil tertawa.

Pernikahan di antara anggota pemberontak, yang juga kerap membantu wartawan asing yang datang ke Suriah dan kekasihnya yang berusia 33 tahun, tak hanya membahagiakan pasangan ini, tetapi juga memberi berkah untuk pasukan pemberontak di Aleppo.

Akibat pernikahan ini, pasukan pemberontak bisa beristirahat sejenak bagi pasukan yang menguasai distrik Sukkari di bagian tenggara Aleppo. Mereka menembakkan senapan serbu AK-47 ke udara sebagai tanda ikut berbahagia atas pernikahan ini.

"Selamat! Semoga Tuhan memberi kalian anak yang banyak," kata salah seorang anggota pemberontak saat kedua mempelai menari dalam lingkaran yang dibuat kawan-kawan mereka.

"Kita tak akan biarkan perang merusak hidup kami. Kami tak tahu kapan perang akan berakhir. Bisa jadi beberapa bulan lagi, atau mungkin 10 tahun lagi. Apakah saya harus menunggu perang selesai untuk melanjutkan hidup?" kata Yusef.

Sayangnya, tak satu pun anggota keluarga Ghada yang hadir dalam pernikahan putrinya ini. Sebab, keluarga Ghada tinggal di sisi lain kota yang terhalang wilayah yang dikuasai pasukan Pemerintah Suriah.

Bahkan, untuk mendapatkan restu keluarganya, Ghada butuh waktu berbulan-bulan.

"Ayah saya adalah pendukung Assad, dan saat kami kali pertama bertemu, saya berusaha menyembunyikan fakta bahwa Yusef bertempur bersama pasukan pembebasan Suriah," ujar Ghada yang adalah sarjana Sastra Inggris itu.

Ayah Ghada secara tak sengaja menemukan foto Yusef sedang mengenakan pakaian militer. Akibatnya, sang ayah melarang Ghada bertemu lagi dengan Yusef.  

Namun, Yusef—yang adalah mahasiswa pemasaran—justru mengundang keluarga Ghada ke kawasan yang dikuasai pemberontak, tempat Yusef tinggal.

"Saya mengundang orangtua Ghada untuk menunjukkan bahwa pemberontak bukanlah teroris, seperti yang digembar-gemborkan pemerintah," kenang Yusef.

"Mereka lalu menyadari kehidupan di sini jauh lebih baik ketimbang di kawasan yang dikuasai pemerintah, di luar pengeboman tentu saja," tambah Yusef.

Berharap perdamaian

Ghada dan Yusef kali pertama bertemu lewat satu dari ratusan akun Facebook yang dikelola aktivis Suriah yang menentang rezim Bashar al Assad.

"Yusef dan saya kemudian memulai chatting karena foto profil saya di Facebook adalah seekor anak kucing. Yusef sangat suka kucing," ujar Ghada.

Cinta keduanya kemudian tumbuh di tengah Aleppo yang terbagi-bagi antara kawasan pro dan anti terhadap pemerintah.

"Kami hanya pernah bertemu empat kali. Ghada tinggal di kawasan yang dikuasai pemerintah. Jika saya pergi ke sana, saya pasti dibunuh karena saya anggota pemberontak," kata Yusef.

"Sering kali juga terlalu berbahaya bagi Ghada untuk mengunjungi saya. Jadi kami menghabiskan waktu selama tujuh bulan terakhir lewat internet dan telepon," kata Yusef.

Kini keduanya sudah menikah dan berharap memiliki setidaknya dua anak, meski keduanya memiliki pemikiran berbeda soal masa depan.

"Saya ingin anak-anak saya ikut berjuang dalam perang atau membangun kembali negeri ini jika konflik berakhir," kata Yusef bangga.

Namun, saat ini Ghada hanya memimpikan perdamaian datang sesegera mungkin.

"Saya ingin perang segera berakhir sehingga kami bisa memulai hidup kami bersama anak-anak," harap Ghada.

Dengan kondisi perang yang belum kunjung berakhir, Ghada khawatir keluarganya harus pergi meninggalkan Suriah dan menjadi pengungsi.

"Saya tak ingin meninggalkan Suriah. Namun, bisa saja pikiran saya berubah karena yang saya inginkan adalah yang terbaik untuk keluarga," papar Ghada.

"Dalam hati terdalam, saya ingin membangun sebuah negara baru, tempat anak-anak kami bisa hidup bahagia," pungkas Ghada perlahan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau