Pembukaan jalan di papua (3)

1.500 Kilometer yang Berpacu dengan Waktu

Kompas.com - 28/01/2013, 10:52 WIB

oleh Aris Prasetyo

Awal tahun ini, tim dari Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat bekerja lebih keras. Mereka mendorong percepatan pembukaan jalan lintas darat di Papua dan Papua Barat sepanjang 1.500 kilometer.

Dari jadwal yang disusun, pembukaan jalan dimulai pada Maret 2012 dan harus rampung pada pertengahan 2014. Jalan tersebut dimulai sejak dari Wasior di Papua Barat sampai Yahukimo di Papua.

Tim survei dari Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang diikuti Kompas pekan lalu menyaksikan bahwa medan yang akan dilalui pembuatan jalan sangat berat.

Pantauan dari udara menggunakan helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat menampakkan pemandangan gunung dan jurang. Selain medan berupa pegunungan dan beberapa di antaranya melintasi sungai, pembukaan jalan harus menembus hutan lebat di sebagian besar wilayah di Papua.

Tak heran jika rencana pembukaan jalan tersebut akan melibatkan TNI Angkatan Darat dari Direktorat Zeni. Mereka akan didukung berbagai peralatan berat untuk membuka jalan dengan anggaran yang disiapkan antara Rp 800 miliar-Rp 1,5 triliun bersumber dari APBN.

"Lebar pembukaan jalan adalah 12 meter dan lebar badan jalan 6 meter. Anggota TNI hanya membuka jalan saja, untuk urusan pengerasan jalan akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang wilayahnya dilalui pembukaan jalan tersebut," kata Staf Ahli UP4B Dodi Imam Hidayat.

Dodi optimistis jika rencana pembukaan jalan tersebut akan rampung tepat waktu. UP4B memang berpacu dengan 'usia' unit itu sendiri. Pasalnya, UP4B lahir lewat Peraturan Presiden Nomor 65 dan 66 Tahun 2011 dan belum tentu presiden berikutnya akan memperpanjang 'usia' UP4B.

"Kami ingin membuktikan bahwa UP4B bisa berbuat sesuatu yang nyata bagi Papua dan Papua Barat meski waktu kami terbatas," tutur Dodi.

UP4B memprioritaskan pembukaan jalan di Papua dan Papua Barat. Logikanya, jika semua wilayah terhubung jalan, ongkos transportasi akan lebih murah ketimbang menggunakan pesawat udara seperti yang terjadi di wilayah terisolasi di Papua dan Papua Barat.

Pada akhirnya, harga kebutuhan pokok dan harga barang bisa lebih rendah. Jalan yang sudah terbuka akan mempermudah rencana pembangunan bidang kesehatan dan pendidikan. Lihat saja di Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Untuk menuju wilayah itu dari Jayapura harus menggunakan pesawat. Akibatnya, harga-harga membengkak, seperti bensin eceran yang dalam kondisi 'normal' harganya Rp 70.000 per liter. Semen satu sak mencapai Rp 1,2 juta.

Situasi serupa juga terjadi di wilayah pedalaman di Papua dan Papua Barat. Obed Sibetae, Kepala Desa Sikari, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, mengaku gembira dengan rencana pembukaan jalan tersebut. Wilayahnya termasuk salah satu yang dilalui rencana pembukaan jalan mulai tahun ini.

"Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar pemerintah terbuka hatinya untuk membuatkan jalan yang menghubungkan wilayah kami dengan dunia luar. Kami ingin maju seperti saudara-saudara kami yang lain," ucap Obed.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau