oleh Aris Prasetyo
Awal tahun ini, tim dari Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat bekerja lebih keras. Mereka mendorong percepatan pembukaan jalan lintas darat di Papua dan Papua Barat sepanjang 1.500 kilometer.
Dari jadwal yang disusun, pembukaan jalan dimulai pada Maret 2012 dan harus rampung pada pertengahan 2014. Jalan tersebut dimulai sejak dari Wasior di Papua Barat sampai Yahukimo di Papua.
Tim survei dari Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang diikuti Kompas pekan lalu menyaksikan bahwa medan yang akan dilalui pembuatan jalan sangat berat.
Pantauan dari udara menggunakan helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat menampakkan pemandangan gunung dan jurang. Selain medan berupa pegunungan dan beberapa di antaranya melintasi sungai, pembukaan jalan harus menembus hutan lebat di sebagian besar wilayah di Papua.
Tak heran jika rencana pembukaan jalan tersebut akan melibatkan TNI Angkatan Darat dari Direktorat Zeni. Mereka akan didukung berbagai peralatan berat untuk membuka jalan dengan anggaran yang disiapkan antara Rp 800 miliar-Rp 1,5 triliun bersumber dari APBN.
"Lebar pembukaan jalan adalah 12 meter dan lebar badan jalan 6 meter. Anggota TNI hanya membuka jalan saja, untuk urusan pengerasan jalan akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang wilayahnya dilalui pembukaan jalan tersebut," kata Staf Ahli UP4B Dodi Imam Hidayat.
Dodi optimistis jika rencana pembukaan jalan tersebut akan rampung tepat waktu. UP4B memang berpacu dengan 'usia' unit itu sendiri. Pasalnya, UP4B lahir lewat Peraturan Presiden Nomor 65 dan 66 Tahun 2011 dan belum tentu presiden berikutnya akan memperpanjang 'usia' UP4B.
"Kami ingin membuktikan bahwa UP4B bisa berbuat sesuatu yang nyata bagi Papua dan Papua Barat meski waktu kami terbatas," tutur Dodi.
UP4B memprioritaskan pembukaan jalan di Papua dan Papua Barat. Logikanya, jika semua wilayah terhubung jalan, ongkos transportasi akan lebih murah ketimbang menggunakan pesawat udara seperti yang terjadi di wilayah terisolasi di Papua dan Papua Barat.
Pada akhirnya, harga kebutuhan pokok dan harga barang bisa lebih rendah. Jalan yang sudah terbuka akan mempermudah rencana pembangunan bidang kesehatan dan pendidikan. Lihat saja di Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
Untuk menuju wilayah itu dari Jayapura harus menggunakan pesawat. Akibatnya, harga-harga membengkak, seperti bensin eceran yang dalam kondisi 'normal' harganya Rp 70.000 per liter. Semen satu sak mencapai Rp 1,2 juta.
Situasi serupa juga terjadi di wilayah pedalaman di Papua dan Papua Barat. Obed Sibetae, Kepala Desa Sikari, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, mengaku gembira dengan rencana pembukaan jalan tersebut. Wilayahnya termasuk salah satu yang dilalui rencana pembukaan jalan mulai tahun ini.
"Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar pemerintah terbuka hatinya untuk membuatkan jalan yang menghubungkan wilayah kami dengan dunia luar. Kami ingin maju seperti saudara-saudara kami yang lain," ucap Obed.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang