Kairo, Kompas -
Mursi juga telah mengumumkan keadaan darurat di tiga provinsi, yaitu Port Said, Ismailia, dan Suez, selama 30 hari terhitung mulai hari Minggu malam lalu. Tiga provinsi itu terletak di sepanjang Terusan Suez. Jam malam diberlakukan di tiga provinsi tersebut mulai pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat selama keadaan darurat berlaku.
Presiden Mesir berjanji akan menghadapi dengan tegas semua ancaman keamanan dan bahkan siap melakukan tindakan lebih jauh jika keadaan memaksa. Demikian dilaporkan wartawan
Akan tetapi, massa anti-Mursi seperti tak menggubris ancaman itu. Puluhan pemuda anti-Mursi dan aparat keamanan, Senin siang, kembali bentrok di dekat Hotel Semiramis di Jalan Qornis el-Nil, Kairo. Para pemuda terlihat melemparkan bom-bom molotov ke arah barisan aparat keamanan.
”Bentrok di sini selalu dimulai pada siang atau sore hari hingga tengah malam. Kalau pagi hari, kondisi di sini tenang karena para pemuda dan aparat keamanan tidur. Jadi, pada pagi hari ada semacam gencatan senjata,” ungkap Samir (34), seorang warga yang ditemui
Sejumlah pemuda juga kembali memblokade Jalan Layang 6 Oktober dekat Alun-alun Tahrir pada Minggu malam hingga Senin dini hari. Jalan layang tersebut merupakan jalan utama yang menghubungkan Provinsi Kairo dan Giza.
Selain di Kairo, bentrokan terjadi pula di sejumlah kota, seperti Alexandria, Zaqazig, Suez, dan Ismailia. Di Port Said, bentrok antara massa dan aparat keamanan terjadi sejak Minggu siang, saat acara pemakaman 29 korban tewas yang gugur pada hari Sabtu. Bentrok lanjutan tersebut membawa korban 7 orang tewas dan 630 lainnya luka-luka.
Kerusuhan di Mesir, yang telah menelan lebih dari 50 korban tewas, pecah sejak Jumat pekan lalu, yang bertepatan dengan peringatan dua tahun revolusi rakyat Mesir yang menjatuhkan mantan Presiden Hosni Mubarak. Sebagian rakyat di Mesir merasa tidak puas terhadap kepemimpinan Presiden Mursi dan laju perubahan yang dianggap terlalu lambat.
Sikap kubu oposisi masih beragam dalam menanggapi ajakan dialog Mursi. Partai Al Ghad Revolusi pimpinan Ayman Nour menyatakan bersedia hadir. Demikian juga dengan Partai Mesir yang dipimpin mantan calon presiden Abdul Mun’im Abu al-Futuh.
Namun, Front Penyelamatan Nasional (FPN), yang merupakan payung utama kubu oposisi, memberikan sejumlah syarat untuk hadir dalam forum dialog itu, antara lain pembentukan pemerintah penyelamatan nasional.