Ini Alasan Nining dan Siti Gabung ke Partai NasDem

Kompas.com - 29/01/2013, 19:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nining Indra Saleh dan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Siti Nurbaya Bakar telah resmi bergabung dengan Partai NasDem, Selasa (29/1/2013). Secara simbolis keduanya mengenakan seragam Partai NasDem di kantor DPP Partai NasDem, Jalan RP Soeroso, Gondangdia, Jakarta Pusat. Keduanya pun telah mengundurkan diri dari jabatan masing-masing.

Lantas apa alasan mereka meninggalkan jabatan Sekjen dan menjadi politisi?

Nining, mengaku tertarik masuk NasDem karena semangat perubahan yang diusung partai itu. Menurutnya, visi dan misi NasDem sejalan dengan tujuan dan cita-cita bangsa. "NasDem mengusung perubahan. Saya telah pelajari lama. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan mengabdikan diri pada partai melalui Partai Nasdem," ujar Nining.

Ia mengaku sudah cukup mengabdi sebagai Sekjen DPR. Ia ingin posisi itu kini ditempati orang yang tepat. Bergabung dengan NasDem, Nining mengaku ingin berbagi pengalamannya. Kegiatan organisasi, bukan hal baru bagi Nining. Menurutnya, melanjutkan kegiatan di partai politik sama halnya dengan melanjutkan perjuangan demokrasi yang ideal.

"Mengapa melanjutkan kegiatan di parpol? Karna parpol tulang punggung pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Saya di DPR dari orde baru sampai reformasi. Mudah-mudahan pengalaman yang ada, bekal yang saya punyai bisa bermanfaat," terangnya.

Tak jauh berbeda dengan Nining, Siti Nurbaya juga mengungkapkan, ia bergabung dengan Partai NasDem untuk mewujudkan cita-cita Demokrasi. Menurut Siti, NasDem adalah partai yang setiap gerakannya berpihak pada rakyat. NasDem merintis visi dan misi dengan baik hingga dapat lolos menjadi peserta Pemilu 2014.

"Ada yang menarik di NasDem. Namanya saja Nasional Demokrat. Dengan nama itu kita berharap cita-cita demokrasi ada di situ, apalagi yang diusung restorasi Indonesia," kata Siti.

Selain diwarnai oleh bergabungnya sejumlah tokoh, dinamika partai baru ini juga ditandai oleh hengkangnya sejumlah kader dan pengurus menjelang penetapan Surya Paloh menjadi Ketua Umum Partai. Hary Tanoesoedibjo mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem karena tidak sepaham dengan niat Surya menjadi ketua umum. Hary mengaku ingin mempertahankan kepengurusan saat ini yang diisi orang muda.

Pengurus lain yang mengikuti jejak Hary adalah Sekretaris Jenderal Ahmad Rofiq, Wakil Sekretaris Jenderal Saiful Haq, dan Ketua Internal DPP Partai Nasdem Endang Tirtana. Kemudian menyusul 15.000 anggota Barisan Reaksi Cepat (Baret) Nasional Demokrat DKI Jakarta dan struktur Dewan Pimpinan Wilayah GPND DKI Jakarta menyatakan mengundurkan diri, Minggu (27/1/2013).

Mantan Ketua Garda Pemuda Nasional Demokrat (GPND) DKI Jakarta Riezky Aprilia mengatakan, gerakan Perubahan atau Restorasi Indonesia yang selama ini menjadi jargon organisasi masyarakat Nasional Demokrat maupun Partai NasDem hanyalah retorika.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau