Sejarah kerja sama

Derita Boeing, Derita Jepang Juga

Kompas.com - 31/01/2013, 02:32 WIB

Heboh penghentian sementara penggunaan 787 Dreamliner tidak saja meresahkan Boeing. Jepang juga turut prihatin atas berita yang dipicu penghentian penggunaan oleh All Nippon Airways karena masalah baterai itu.

Pukulan bagi Boeing juga merupakan pukulan bagi maskapai penerbangan dan industri dirgantara Jepang. Hal itu merefleksikan hubungan kuat dan solid antara Boeing dan Jepang.

Maskapai penerbangan Jepang terkenal loyal kepada Boeing dan ini berlangsung selama beberapa dekade. Jepang adalah pemesan hampir separuh armada 787 Dreamliner yang sudah diserahkan.

All Nippon Airways (ANA) adalah maskapai pertama yang mengoperasikan Dreamliner di dunia. Steve McGuire, profesor manajemen di Aberystwyth University, Wales, mengatakan, kedekatan hubungan itu memiliki akar dalam.

Menurut harian AS, The New York Times, edisi Jumat, 25 Januari, hubungan itu dimulai di akhir Perang Dunia II. ”Jepang berada di bagian dunia yang keras, seperti tetangga yang sulit diajak kompromi,” kata McGuire. Ada Uni Soviet, kemudian kebangkitan China.

Amerika Serikat membutuhkan pangkalan di bagian dunia yang keras itu. Jepang memerlukan perlindungan. ”AS tampak berterima dan merupakan negara kuat serta memiliki pengertian. Saya kira faktor ini sejak lama memiliki dampak ke dalam banyak hal,” kata McGuire.

Hal itu berkembang ke transaksi peralatan militer dan pembelian pesawat komersial. Sebaliknya, Boeing memberi banyak kontrak ke korporasi Jepang. Sekitar 35 persen bagian dari Boeing 787 Dreamliner dibuat perusahaan Jepang. GS Yuasa, perusahaan Jepang, adalah pembuat baterai litium-ion untuk Dreamliner yang kemudian bermasalah.

Seorang mantan eksekutif Boeing mengatakan, ”Kami punya Jepang sebagai pasar karena itu kami memilih Jepang sebagai mitra. Ini pengertian yang berlangsung diam-diam dan tidak tertulis.”

Perjanjian seperti itu sebenarnya dilarang berdasarkan aturan main Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Namun, AS dan Jepang tidak tergoyahkan soal ini. WTO tak pernah mempan memberantas hubungan yang mendiskriminasi pihak lain ini.

Wakil Presiden Boeing dan juga mantan Presiden Boeing Jepang Nicole Piasecki tahun 2008 pernah bertutur, ”Ini bukan hanya relasi dalam konteks bisnis. Pemerintah Jepang begitu kuat serta bagian dari kepentingan ekonomi dan industri.”

Karena itu, masalah Boeing tidak akan mengganggu hubungan Jepang dengan AS.

Namun, sayang, kedekatan hubungan ini tidak dipelihara baik. Sejak tahun 2003, Boeing merasa ketinggalan dari pesaing utamanya, Airbus. Boeing menghadapi banyak skandal dan pesawat buatannya mulai ditinggal.

Boeing berencana melakukan semacam revolusi. Perusahaan mencanangkan pembuatan pesawat baru yang lebih ringan dan maju secara teknologi. Akan tetapi, antara keinginan dan pelaksanaan di lapangan ada kesenjangan. Ada penundaan pembuatan, biaya lebih mahal, dan moral pekerja yang rendah.(AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau