Kebersihan

Jokowi Ajak Warga Bekerja Bakti Setiap Hari Minggu

Kompas.com - 04/02/2013, 02:43 WIB

Jakarta, Kompas - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengajak segenap warga Jakarta untuk bekerja bakti di lingkungannya setiap hari Minggu. Apalagi, kondisi sejumlah sungai di Jakarta belum bebas sampah sepenuhnya. Meskipun sudah mulai ada usaha pembersihan sampah secara manual, belum ada sistem yang bisa mencegah pembuangan sampah ke sungai.

Dengan kerja bakti rutin, Gubernur yakin kebersihan lingkungan akan terjaga dan risiko banjir bisa dikurangi.

”Pemprov DKI Jakarta, apalagi gubernurnya, tidak akan bisa membersihkan Jakarta tanpa gerakan sosial dari masyarakat,” kata Jokowi, Minggu (3/2), saat meninjau kerja bakti di Lagoa, Jakarta Utara.

Warga di berbagai tempat, terutama di lokasi yang sebelumnya diterjang banjir, juga banyak yang telah membersihkan rumah dan lingkungannya. Kendati demikian, sampah masih banyak ditemukan di tepi jalan, saluran air, dan sungai.

Sarana-prasarana dibantu

Jokowi mengatakan, kerja bakti masyarakat yang dimulai pekan ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu Lagoa dan Penjaringan. Dia yakin, seiring berjalannya waktu, akan semakin banyak lagi warga yang melakukan kerja bakti.

”Nanti akan banyak muncul titik kerja bakti lainnya. Pekan ini dua tempat, pekan depan bisa lebih banyak, bulan depan bisa muncul ratusan atau ribuan tempat,” ujarnya.

Jokowi juga mengapresiasi kerja para sukarelawan yang turut membantu warga membersihkan lingkungan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Jokowi, akan membantu kebutuhan warga saat kerja bakti, seperti karbol, alat penyedot selokan, obat-obatan, dan personel satuan polisi pamong praja untuk membantu warga.

Dinas kebersihan dan suku dinas kebersihan juga bisa membantu penyediaan sarana dan prasarana pendukung kerja bakti, seperti truk sampah, gerobak motor, sapu lidi, ember, karung plastik, penggaruk sampah, dan kerukan sampah.

Terkait penanganan sampah, sebelumnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendesak Badan Legislasi Daerah DPRD DKI untuk segera membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Naskah rancangan perda telah diserahkan kepada Badan Legislasi Daerah tahun 2012.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Unu Nurdin mengatakan, Perda Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan dalam Wilayah DKI Jakarta dinilai sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan masalah sampah di Jakarta.

Tempat sampah

Dari penelusuran di Kali Item, Minggu, tumpukan sampah ada di sejumlah titik, antara lain menjelang pompa air Honda dan di sekitar rumah pompa Cempaka Baru. Kali Item membelah Kecamatan Kemayoran di Jakarta Pusat dan Kecamatan Tanjung Priok di Jakarta Utara.

Was, petugas pembersih sampah di kawasan pompa Honda, mengatakan, sampah di lokasi itu biasanya banyak karena merupakan akumulasi dari daerah di atasnya.

”Pembersihannya dilakukan manual. Biasanya, ada enam orang yang kerja. Tetapi, kalau hari libur, cuma dua orang yang kerja,” kata Was yang membersihkan sungai dengan memakai tongkat yang ujungnya diberi jeruji besi berbentuk lingkaran untuk menjaring sampah.

Sampah yang terjaring lantas ditumpuk di pinggir jalan. Pada hari kerja, ada truk sampah yang mengangkut sampah yang telah diangkat.

Selain di dekat pompa, ada pula petugas serupa yang bekerja di titik-titik lain sepanjang Kali Item itu. Beberapa petugas menggunakan rakit dari bambu untuk bisa mencapai bagian tengah sungai. Persoalan sampah kian rumit karena ada beberapa lokasi pembuangan sampah di pinggir sungai.

Sampah pasar

Sampah juga menjadi persoalan di kawasan perbatasan antara Jakarta dan kota/kabupaten sekitarnya. Peningkatan produksi sampah secara alami dan spontan terjadi di pembuangan akhir di Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi. Peningkatan alami akibat pertambahan penduduk, sedangkan peningkatan spontan akibat banjir. Sampah terbawa aliran sungai dari luar Kota Bekasi.

Produksi sampah di Kota Bekasi mencapai 1.475 ton atau 5.899 meter kubik per hari.

Di Pasar Jombang, Tangerang Selatan, tak jauh dari Stasiun Sudimara, juga ada genangan air bercampur tumpukan sampah. Pengunjung pasar harus melewati jembatan kecil dari papan kayu untuk menghindari genangan dan sampah yang membusuk itu. (NEL/ART/FRO/BRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau