Jakarta, Kompas -
Dengan kerja bakti rutin, Gubernur yakin kebersihan lingkungan akan terjaga dan risiko banjir bisa dikurangi.
”Pemprov DKI Jakarta, apalagi gubernurnya, tidak akan bisa membersihkan Jakarta tanpa gerakan sosial dari masyarakat,” kata Jokowi, Minggu (3/2), saat meninjau kerja bakti di Lagoa, Jakarta Utara.
Warga di berbagai tempat, terutama di lokasi yang sebelumnya diterjang banjir, juga banyak yang telah membersihkan rumah dan lingkungannya. Kendati demikian, sampah masih banyak ditemukan di tepi jalan, saluran air, dan sungai.
Jokowi mengatakan, kerja bakti masyarakat yang dimulai pekan ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu Lagoa dan Penjaringan. Dia yakin, seiring berjalannya waktu, akan semakin banyak lagi warga yang melakukan kerja bakti.
”Nanti akan banyak muncul titik kerja bakti lainnya. Pekan ini dua tempat, pekan depan bisa lebih banyak, bulan depan bisa muncul ratusan atau ribuan tempat,” ujarnya.
Jokowi juga mengapresiasi kerja para sukarelawan yang turut membantu warga membersihkan lingkungan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Jokowi, akan membantu kebutuhan warga saat kerja bakti, seperti karbol, alat penyedot selokan, obat-obatan, dan personel satuan polisi pamong praja untuk membantu warga.
Dinas kebersihan dan suku dinas kebersihan juga bisa membantu penyediaan sarana dan prasarana pendukung kerja bakti, seperti truk sampah, gerobak motor, sapu lidi, ember, karung plastik, penggaruk sampah, dan kerukan sampah.
Terkait penanganan sampah, sebelumnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendesak Badan Legislasi Daerah DPRD DKI untuk segera membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Naskah rancangan perda telah diserahkan kepada Badan Legislasi Daerah tahun 2012.
Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Unu Nurdin mengatakan, Perda Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan dalam Wilayah DKI Jakarta dinilai sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan masalah sampah di Jakarta.
Dari penelusuran di Kali Item, Minggu, tumpukan sampah ada di sejumlah titik, antara lain menjelang pompa air Honda dan di sekitar rumah pompa Cempaka Baru. Kali Item membelah Kecamatan Kemayoran di Jakarta Pusat dan Kecamatan Tanjung Priok di Jakarta Utara.
Was, petugas pembersih sampah di kawasan pompa Honda, mengatakan, sampah di lokasi itu biasanya banyak karena merupakan akumulasi dari daerah di atasnya.
”Pembersihannya dilakukan manual. Biasanya, ada enam orang yang kerja. Tetapi, kalau hari libur, cuma dua orang yang kerja,” kata Was yang membersihkan sungai dengan memakai tongkat yang ujungnya diberi jeruji besi berbentuk lingkaran untuk menjaring sampah.
Sampah yang terjaring lantas ditumpuk di pinggir jalan. Pada hari kerja, ada truk sampah yang mengangkut sampah yang telah diangkat.
Selain di dekat pompa, ada pula petugas serupa yang bekerja di titik-titik lain sepanjang Kali Item itu. Beberapa petugas menggunakan rakit dari bambu untuk bisa mencapai bagian tengah sungai. Persoalan sampah kian rumit karena ada beberapa lokasi pembuangan sampah di pinggir sungai.
Sampah juga menjadi persoalan di kawasan perbatasan antara Jakarta dan kota/kabupaten sekitarnya. Peningkatan produksi sampah secara alami dan spontan terjadi di pembuangan akhir di Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi. Peningkatan alami akibat pertambahan penduduk, sedangkan peningkatan spontan akibat banjir. Sampah terbawa aliran sungai dari luar Kota Bekasi.
Produksi sampah di Kota Bekasi mencapai 1.475 ton atau 5.899 meter kubik per hari.
Di Pasar Jombang, Tangerang Selatan, tak jauh dari Stasiun Sudimara, juga ada genangan air bercampur tumpukan sampah. Pengunjung pasar harus melewati jembatan kecil dari papan kayu untuk menghindari genangan dan sampah yang membusuk itu.