Tersandung suap impor daging

PKS "Pede" Rakyat Tetap Memilihnya

Kompas.com - 04/02/2013, 13:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid meyakini kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, tidak akan terlalu mengganggu tingkat dukungan publik terhadap PKS, terutama dalam pemenangan pilkada yang akan digelar dalam waktu dekat.

Hidayat mengatakan, ia baru berkunjung ke Sumatera Utara. Berdasarkan pembicaraan dengan warga di sana, kata dia, masyarakat tidak terpengaruh dengan pemberitaan di Jakarta.

"Mereka yakin akan pilih PKS dan enggak ada masalah dengan PKS. Menurut mereka, (kasus Luthfi) itu masalah pribadi, bukan partai," kata Hidayat di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (4/1/2013).

Hidayat membantah penilaian bahwa pihaknya tidak legawa dengan terjeratnya Luthfi. Menurut dia, PKS tetap mendukung kerja Komisi Pemberantasan Korupsi. Hanya, pihaknya mempertanyakan perlakuan berbeda yang dikenakan KPK terhadap Luthfi dan tersangka lainnya.

"Si A sekian lama ditetapkan sebagai tersangka, tapi enggak ditahan-tahan hingga hari ini. Si B mesti disurati dulu berkali-kali untuk jadi tersangka. Ini ketua partai, di kantor partai, hanya 2 jam dinyatakan jadi tersangka. Masak kami enggak boleh bertanya? Sekali lagi, kami mendukung KPK," kata mantan Presiden PKS itu.

Seperti diberitakan, Luthfi telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pemberian rekomendasi kuota impor daging kepada Kementerian Pertanian. Luthfi diduga "menjual" otoritasnya untuk memengaruhi pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebijakan impor daging tersebut.

Luthfi dan orang dekatnya, Ahmad Fathanah, diduga menerima suap dari perusahaan impor daging, PT Indoguna Utama, dengan barang bukti senilai Rp 1 miliar. KPK juga menetapkan Direktur PT Indoguna Utama Juard Effendi dan Abdi Arya Effendi sebagai tersangka pemberi suap.

Para elite PKS menuding ada skenario besar dari perkara itu untuk menjatuhkan PKS di Pemilu 2014. Namun, mereka tidak bisa membuktikan tuduhan tersebut.

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Skandal Suap Impor Daging Sapi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau