BANDUNG, KOMPAS -
Demikian kesimpulan hasil survei yang dikeluarkan lembaga survei tersebut di Bandung, Selasa (5/2). Survei dilakukan pada 10-16 Januari 2013 terhadap 440 responden, dengan marjin kesalahan 4,8 persen.
Tiga pasangan punya figur artis, yakni Dede Yusuf, Deddy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka, dikenali mayoritas responden. Sementara dua pasangan tanpa artis, yakni Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib dan Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim, tidak melampaui 10 persen suara.
”Hasil ini menjadi pembenaran bahwa Pilkada Jabar menjadi perang bintang dengan kehadiran para calon yang berasal dari kalangan pesohor,” kata Direktur Eksekutif Cikom LSI Toto Izul Fatah.
Berdasarkan kategori pengenalan tokoh, Dede Yusuf dikenali responden dengan 95,4 persen suara, diikuti Deddy Mizwar (89,1 persen) dan Rieke Diah Pitaloka (73,9 persen). Gubernur petahana Ahmad Heryawan meraih popularitas hingga 63,4 persen.
Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Muradi, mengatakan, hasil ini menegaskan tesis yang menyebut bahwa pemilih di Jabar cenderung memilih pemimpin berdasarkan figur yang dikenal. Fenomena serupa terjadi pada Pilkada Jabar 2008. Ketika Ahmad Heryawan berpasangan dengan Dede Yusuf, secara mengejutkan pasangan ini bisa mengalahkan gubernur petahana Danny Setiawan dan politisi nasional Agum Gumelar.
Toto mengatakan, survei itu belum mencerminkan kondisi terkini, terutama kasus penahanan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terkait suap dari importir daging sapi. Elektabilitas Heryawan dipastikan turun karena berita tersebut sudah tersebar luas ke masyarakat.
”Meski kalah unggul dibandingkan Dede-Lex, elektabilitas Heryawan-Mizwar bisa naik kembali apabila mereka bisa menegaskan harapan baru kepada masyarakat,” ujar Toto.
Survei Cikom LSI menunjukkan, 35,3 persen responden bakal memilih pasangan Dede-Lex, diikuti Heryawan-Mizwar (27,4 persen) dan Rieke-Teten (13,2 persen). Irianto yang kurang dikenal berdasarkan survei itu hanya mendapatkan dukungan 9,5 persen responden. Sementara calon dari jalur perseorangan, Dikdik-Cecep, 0,7 persen.
Dipaparkan lebih jauh, Dede- Lex mampu menjaring pemilih dari berbagai kategori, baik jenis kelamin, agama, usia, pendidikan, suku, maupun tingkat pendapatan. Hanya Irianto yang unggul untuk pemilih dari suku Jawa, sementara Heryawan unggul dengan pemilih berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi.
Heryawan menyebut hasil survei itu sebagai cambuk bagi tim pemenangan untuk bekerja lebih keras lagi. Selama ini, hasil survei menjelang pilkada belum bisa menggambarkan kenyataan sesungguhnya di lapangan.
Ketua tim sukses pasangan Dede-Lex, Didin Supriadin, mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat berdasarkan hasil survei itu harus dipertahankan hingga hari pemilihan. Hasil survei tersebut bakal dipakai untuk kajian dalam strategi pemenangan pilkada.
Dede Yusuf optimistis mampu memenangi pilkada dalam satu putaran. Selain mengandalkan mesin partai, pihaknya juga mengerahkan relawan. Saat ini sudah terbentuk 125 tim relawan dari berbagai kelompok masyarakat. Ia juga sudah mengatur jadwal kampanye yang efektif dan efisien.
Meski perolehan suaranya diramalkan jelek, Irianto mengaku tidak terlalu risau. Ia mengatakan bakal lebih keras lagi berkeliling ke semua daerah demi memperkenalkan diri kepada masyarakat Jabar. ”Saya akan turun terus dengan menawarkan program unggulan,” katanya.
Teten optimistis bakal meraih suara melampaui hasil survei. Dia juga berjanji menghemat anggaran apabila terpilih memimpin Jabar bersama Rieke. Penghematan akan dilakukan pada pos anggaran yang dianggap menghamburkan uang rakyat, dan akan menambah pembiayaan sektor kesejahteraan masyarakat, seperti kesehatan dan pendidikan.(eld/sem/mhf/rek/che/nik)