Pedagang Daging di Bandar Lampung Gulung Tikar

Kompas.com - 06/02/2013, 18:36 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com -- Tingginya harga daging sapi beberapa bulan terakhir di Kota Bandar Lampung telah melemahkan daya beli konsumen. Akibatnya, omset para pedagang daging pun anjlok. Sebagian dari mereka gulung tikar.

Seperti terlihat di Pasar Smep dan Pasar Pasir Gintung, Rabu (6/2/2013), sejumlah lapak-lapak daging sapi kosong. Pedagang tidak berjualan. Bahkan, sebagian lapak ini berganti dengan komoditas lain.

Ketua Perkumpulan Pedagang Daging Bandar Lampung, Tampan Sujawardi mengatakan, akibat tingginya harga daging menyusul terbatasnya pasokan sapi di Lampung, sejumlah pedagang daging kini gulung tikar dan menganggur. Mereka tidak lagi sanggup menanggung penurunan omset.

"Sekitar 30 persen dari anggota saya yang berjumlah 500 orang kini gulung tikar, tidak bisa melanjutkan usaha. Bahkan, ada yang berhutang. Ini bukti nyata bahwa kebijakan pemerintah (soal pembatasan impor), pada praktiknya di lapangan, justru merugikan sebagian pihak, khususnya kami," tuturnya.

Ia menyayangkan ketidakmampuan pemerintah untuk menjamin lancarnya ketersediaan pasokan sapi. "Pemerintah bilang stok sapi lokal sebetulnya mencukupi. Itu hanya di atas kertas. Kenyataannya sangat jauh. Stok di feedlot berkurang dratis. Kami beli dari petani pun sulit," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau