Demokrat Bukan Partai Modern

Kompas.com - 07/02/2013, 01:51 WIB

Jakarta, Kompas - Seperti kebanyakan partai lain, Partai Demokrat belum bisa digolongkan sebagai partai modern yang mendasarkan pada aturan main. Langkah kader yang meminta Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan mengatasi persoalan membuktikan, partai itu masih berfokus pada tokoh.

”Partai Demokrat tidak bisa dikatakan sebagai partai modern karena mereka tidak menyelesaikan persoalan dengan sepenuhnya mendasarkan diri pada mekanisme partai yang ada,” kata Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Sebastian Salang, Rabu (6/2), di Jakarta.

”Partai Demokrat bukan partai modern, yang selama ini diklaim mereka. Mereka masih mengandalkan tokoh,” kata pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indria Samego.

Para kader yang beramai-ramai meminta SBY, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, mengambil inisiatif merampungkan persoalan memperlihatkan sifat sentralistik partai tersebut. ”Sebenarnya situasi ini bukan hanya terjadi pada Partai Demokrat, tetapi juga pada hampir semua partai politik di Indonesia,” ungkap Sebastian.

Partai modern, kata Indria, seharusnya berupaya mengatasi persoalan dengan mengacu pada aturan main atau anggaran dasar. Partai modern tidak mengandalkan tokoh untuk mengatasi problem internal.

Perlunya SBY turun tangan mengembalikan elektabilitas partai terdengar kencang. Namun, menurut anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Syarief Hasan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, penggantian Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum belum tentu dapat menyehatkan partai.

Turunnya elektabilitas Partai Demokrat, seperti hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting, cukup membuat Dewan Pembina resah. Syarief berharap SBY turun tangan untuk mengembalikan kondisi partai karena SBY berpengalaman meningkatkan elektabilitas partai. ”Untuk menaikkan 1 atau 2 persen itu sulit setengah mati. Sehingga yang penting sekarang ini, Ketua Dewan Pembina harus turun tangan,” ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie meminta semua pihak harus duduk bersama untuk mencari jalan keluar atas turunnya elektabilitas. ”Jadi, saya minta Mas Anas bersama beberapa orang DPP mengundang Wanbin (Dewan Pembina), Majelis Tinggi, dan Wanhor (Dewan Kehormatan) untuk duduk bersama membicarakan ini,” katanya.

Namun, merosotnya elektabilitas Partai Demokrat semestinya menjadi cambuk bagi setiap elite politik partai untuk melakukan introspeksi diri. Dengan introspeksi diri, kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Magelang Sad Priyo Putro, setiap elite diharapkan dapat menyadari betul apakah dirinya masih cukup disukai masyarakat dan apakah masih berhasil menjalankan tugasnya di partai atau tidak.

”Setiap elite politik Partai Demokrat yang tidak lagi dipercaya masyarakat dan gagal menjalankan tugasnya diharapkan legawa, berbesar hati, untuk mengundurkan diri,” ujarnya.

Selain introspeksi diri, kader juga harus jujur kepada masyarakat. Menurut dia, Anas yang sering disebut-sebut terkait kasus dugaan korupsi proyek Hambalang harus berterus terang untuk mengakui apakah terlibat korupsi atau tidak. ”KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) harus segera mengumumkan siapa saja kader Partai Demokrat yang terlibat korupsi,” tuturnya.

Ketua DPC Partai Demokrat Kota Magelang Hasan Suryoyudho meyakini, kasus yang membelit elite di tingkat pusat tidak akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat di daerah terhadap Partai Demokrat.

Sementara itu, Anas mengaku, pada Selasa siang. dirinya menerima pesan singkat (SMS) dari SBY yang ditulis di hadapan Kabah di Masjidil Haram, Mekkah. SBY terus memohon petunjuk dan pertolongan Allah agar Partai Demokrat dapat segera dibebaskan dari berbagi masalah. ”Isinya bagus, yakni doa dan permohonan kepada Allah di Tanah Suci, insya Allah makbul,” kata Anas.

Dalam rapat dengan KPK, kemarin, Fraksi Partai Demokrat sempat meminta KPK menghentikan penyelidikan jika tidak menemukan bukti permulaan yang cukup. Namun, permintaan itu gagal lolos menjadi kesimpulan rapat karena ditolak fraksi lain dan pimpinan KPK.

Sebelumnya, SBY berharap KPK segera memberi kepastian terhadap kasus yang ditudingkan kepada Anas. Namun, Ketua KPK Abraham Samad mengaku tidak merasa ditekan dan diintervensi oleh permintaan SBY tersebut. (ATO/EGI/NTA/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau