Korupsi

Separuh Warga Afganistan Menyuap Aparat Pemerintah

Kompas.com - 07/02/2013, 14:31 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Sebuah hasil studi PBB yang dipublikasikan Kamis (7/2/2013) menunjukkan ksus korupsi di Afganistan pada 2012 meningkat tajam dan separuh penduduk negeri itu pernah menyuap petugas pemerintah.

Setelah invasi AS 11 tahun lalu, kini jutaan dollar bantuan mengucur ke salah satu negeri termiskin di dunia itu. Sayangnya, banjir bantuan itu malah membuat Afganistan menjadi salah satu negeri paling korup di dunia.

Sehingga rencana penarikan mundur seluruh pasukan asing pada akhir tahun 2014 membuat masa depan bantuan internasional untuk Afganistan sangat tergantung kemampuan negeri itu memberantas korupsi.

Laporan yang disusun Badan PBB urusan Obat-obatan Terlarang dan Kriminalitas (UNODC) dan unit anti-korupsi Afganistan menyatakan meski sudah ada upaya nyata memberantas korupsi, namun total korupsi di negeri itu pada 2012 mencapai 3,9 miliar dollar AS, meningkat 40 persen dari 2009.

"Uang suap yang dibayarkan warga Afganistan pada 2012 sama dengan dua kali lipat pendapatan Afganistan atau seperempat dari bantuan dana yang dijanjikan dunia internasional," papar laporan itu.

"Tak ada yang meragukan betapa seriusnya masalah ini, sekarang bagaimana mencari strategi yang tepat untuk memperbaiki situasi ini," kata perwakilan regional UNODC Jean-Luc Lemahieu.

Laporan itu juga menyebut bahwa rakyat kebanyakan Afganistan semakin menganggap korupsi adalah hal yang biasa.

Lebih dari 68 persen warga yang menjadi responden jajak pendapat menganggap adalah hal biasa seorang pegawai pemerintah mencoba menambah penghasilannya dengan menerima suap dalam jumlah kecil. Angka ini meningkat dari hanya 42 persen pada 2009.

Sementara, sebanyak 67 persen responden setuju jika rekrutmen pegawai negeri dilakukan dengan dasar kekeluargaan dan pertemanan. Angka dalam bagian ini juga meningkat tajam dari 42 persen pada 2009.

Sementara biaya korupsi semakin meningkat, jumlah orang yang memberi suap menurun dari 58 persen di 2009 menjadi 50 persen tahun lalu. Namun, para pembayar suap ini mengaku mereka memberi lebih banyak suap kepada aparatur
pemerintah.

Laporan PBB ini didasari jajak pendapat dari 6.800 responden di seluruh Afganistan dan menyimpulkan bahwa penarikan mundur pasukan NATO pada 2014 akan membantu Afganistan memerangi suap dan korupsi.

Sebelumnya, Pemerintah Afganistan menuding banyaknya sistem kontrak yang dilakukan komunitas internasional dalam berbagai proyek di Afganistanlah yang menyuburkan korupsi. Namun, di lain sisi Pemerintah Afganistan juga mengakui penyuapan juga marak dilakukan pejabat negeri itu.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau