Jokowi: Banjir, Penyebabnya Drainase Rusak

Kompas.com - 08/02/2013, 06:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kerusakan drainase di Jakarta memperburuk dampak banjir. Kerusakan itu dipicu penurunan muka tanah, kapasitas yang terlalu kecil, sedimentasi lumpur, serta sumbatan sampah.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berpendapat, kondisi ini menjadi penyebab utama Jakarta banjir walau hanya diguyur hujan beberapa jam. ”Sudah jelas, banjir itu karena drainase yang sudah tidak bisa menampung (air) lagi,” kata Jokowi, Kamis (7/2/2013), di Balaikota Jakarta.

Menurut Jokowi, kapasitas drainase di jalan-jalan utama Jakarta perlu diperbesar karena saat ini tidak mampu menampung air hujan yang lebat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Ery Basworo membenarkan pendapat Jokowi. Aliran air di sejumlah jalan utama tidak berfungsi maksimal, seperti yang terjadi di sisi barat gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin. Air di sekitar gedung ini tidak mengalir karena terjadi cekungan tanah sedalam 20 sentimeter.

Bulan ini, Dinas Pekerjaan Umum DKI memperbaiki saluran di sana dengan menghubungkan air ke Jalan Sunda lalu diteruskan melintasi Jalan MH Thamrin di sisi barat ke area Gedung Mapalus. ”Dari ruas ini, air akan dialirkan ke Kali Cideng,” tuturnya.

Kerusakan aliran air juga terjadi di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Air yang menggenang di jalan itu tidak dapat mengalir ke satu titik air sehingga mempermudah pengalihan air ke luar area itu. Setelah dicek di lapangan, penyebab genangan di sana adalah aliran air terganggu keberadaan beragam jenis pipa utilitas. ”Kami minta pemilik pipa utilitas memindahkan seluruh pipa itu demi kepentingan umum,” katanya.

Selain perbaikan drainase, dalam jangka panjang, Pemprov DKI akan memperbarui semua pompa air. Pompa yang selama ini ada belum cukup membantu mengurangi genangan saat hujan deras melanda, terutama di pusat kota. Saat ini, jumlah pompa air di seluruh DKI ada 627 unit yang tersebar di 165 titik, dengan kapasitas 416,51 meter per detik.

”Kondisi pompa belum mencukupi ketika terjadi hujan lebat di atas rata-rata. Seperti yang terjadi di pusat kota,” tutur Ery.

Banjir yang terjadi pada Rabu (6/2/2013), misalnya, seluruh pompa yang ada di pusat kota beroperasi sesuai prosedur yang ada. Namun, banjir tetap terjadi walau seluruh saluran air dikosongkan terlebih dahulu sebelum hujan lebat mengguyur. ”Kami sudah mengevaluasi, saat hujan lebat, seluruh pompa kewalahan menyedot air,” kata Ery.

Siaga banjir

Banjir pada hari Rabu (6/2) sore hingga petang menggenangi 13 kelurahan di 11 kecamatan di lima wilayah DKI Jakarta. Di Jakarta Selatan, sejak Rabu hingga Kamis pagi, banjir merendam beberapa RT di Kelurahan Petogogan setinggi 70 sentimeter- 100 cm.

”Hujan tidak lama, tetapi memang deras sekali,” kata Heni, warga setempat.

Namun, sebagian besar warga Petogogan selalu siap kebanjiran pada musim hujan. Beberapa mobil dibiarkan terparkir di luar rumah dan terendam semalaman. ”Asal tidak dihidupkan mesinnya tidak apa-apa,” kata seorang warga yang sedang memeriksa mesin mobilnya.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kornelius Simanjuntak memperkirakan, klaim nasabah akibat musibah banjir yang terjadi pada Januari 2013 mencapai Rp 3 triliun. Jumlah itu lebih besar daripada banjir 2007 yang hanya mencapai Rp 2,1 triliun.

”Jakarta merupakan wilayah banjir, dan semua orang sudah bisa memprediksi. Setiap kali banjir, perusahaan asuransi membayar klaim dengan jumlah yang besar. Jika dibandingkan dengan besarnya premi, klaim jauh lebih tinggi,” kata Kornelius.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengingatkan bahwa hujan deras di Jakarta masih berpotensi terjadi karena saat ini masih masa puncak musim hujan. Hingga Jumat, pemerintah melanjutkan program modifikasi cuaca untuk mengantisipasi banjir Jakarta. Operasi modifikasi cuaca pada hari ini dilakukan dengan menaburkan garam di awan dan mengarahkan agar hujan bisa turun di beberapa lokasi tertentu.

Di Bekasi, Pemkot Bekasi dibantu personel TNI membangun beronjong baru di Blok C Pondok Gede Permai, Jatiasih, Kamis. Tanggul darurat itu kembali dibangun biarpun terbukti bisa jebol seperti yang terjadi pada Selasa (5/2/2013), ketika debit air Sungai Bekasi di atas kondisi normal yang 250-300 meter kubik per detik. (NEL/FRO/NDY/BRO/K07)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau