Arah Pelajaran Bahasa Tak Jelas

Kompas.com - 13/02/2013, 03:33 WIB

Jakarta, Kompas - Arah pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 dinilai tidak jelas. Bahasa Indonesia hanya dijadikan alat untuk menyampaikan materi pelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial serta pelajaran lain.

”Adapun materi tentang tata bahasa dan kesusastraan justru diabaikan,” kata Ketua Umum Asosiasi Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia (APBSI) Saifur Rohman.

Dalam seminar yang dihadiri para pengajar Bahasa Indonesia di Jakarta, Senin (11/2), kekhawatiran arah pelajaran Bahasa Indonesia yang tidak jelas juga menguat. Mereka menghadiri seminar Problem Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Literatur, dan Budaya di Asia Tenggara yang diselenggarakan Asosiasi Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia.

Saifur mengatakan, konsep pelajaran Bahasa Indonesia yang tematik integratif masih membingungkan para guru. Jika konsep itu diartikan Bahasa Indonesia hanya sebagai pengantar pelajaran saja, tentu keliru.

Pelajaran Bahasa Indonesia juga memiliki aspek makna bahasa, tata bahasa, kesusastraan, dan aspek lain yang sangat penting. Tata bahasa, misalnya, sampai saat ini masih banyak siswa yang keliru, terutama dalam aspek penerapan ejaan yang disempurnakan. Adapun kesusastraan, Bahasa Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa.

”Jika kesusastraan tidak lagi diajarkan di sekolah, lalu siapa lagi yang akan memelihara kekayaan sastra Indonesia?” kata Saifur Rohman.

Nilai kebangsaan

Menurut Saifur, pada mulanya bahasa dan sastra Indonesia dijadikan sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, identitas, kebahasaan, dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kecerdasan linguistik seorang siswa. Jika Kurikulum 2013 diterapkan, akan berdampak signifikan terhadap model, proses, dan sistem pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

”Para guru resah dengan perubahan ini yang sampai sekarang informasinya belum jelas,” kata kata Saifur.

Berdasarkan penelitian APBSI dengan responden para guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP dan SMA di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah, para guru merasa uji publik belum memberikan informasi yang signifikan bagi pendidik bahasa dan sastra Indonesia.

Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, kata Saifur, perlu tetap berorientasi pada pendidikan nilai-nilai, identitas, dan bahasa yang menjadi jati diri bangsa.

Abdul Hadi WM, penyair dan pengajar di Universitas Paramadina, mengatakan, penguatan pendidikan kesusastraan sangat penting. Sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra. ”Namun, pembelajaran soal sastra ini lemah. Regenerasi juga tidak berjalan baik,” ujarnya.

Sastra yang berkembang justru penguasaan teori-teori, itu pun bukan yang dikembangkan sendiri dari Indonesia.

”Pengajaran sastra kepada generasi muda jangan lepas dari sejarah bangsa. Bangsa yang besar punya kesusastraan yang berkembang baik,” kata Abdul Hadi. (ELN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau