Gerindra: Syarat Capres Tinggi, Cermin Oligarki Partai

Kompas.com - 13/02/2013, 11:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sikap mempertahankan presidential threshold atau ambang batas pengusungan calon Presiden dan Wakil Presiden di angka 20 persen dinilai cermin dari oligarki partai. Sikap tersebut dinilai bertentangan dengan demokrasi.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon di Jakarta, Rabu (13/2/2013), menyikapi revisi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres).

Fadli mengatakan, konstitusi tak mengamanatkan ambang batas pencalonan presiden. Angka PT 20 persen dalam UU Pilpres, kata dia, patut dipertanyakan lantaran dalam UUD 1945 Pasal 6 tak diamanatkan penetapan ambang batas.

"Penetapan PT jelas melanggar konstitusi dan mencederai prinsip civil rights dalam demokrasi. Ini hanyalah kepentingan subjektif jangka pendek partai tertentu. Itu bertentangan dengan hak setiap orang untuk memilih dan dipilih," kata Fadli.

Fadli menambahkan, tingginya angka PT juga membatasi potensi munculnya capres terbaik di Pemilu 2014 maupun pemilu selanjutnya. Partai Gerindra tetap menginginkan angka PT sesuai dengan ambang batas parlemen, yakni 3,5 persen agar semakin banyak capres alternatif.

"Biarlah rakyat yang memilih. Jangan sampai capres hanya milik segelintir elit partai," pungkas dia.

Seperti diberitakan, pembahasan revisi UU Pilpres di Badan Legislasi DPR masih buntu. Sikap fraksi masih terpecah mengenai perlu tidaknya UU Pilpres direvisi sehingga belum menyentuh substansi UU.

Sebagian besar fraksi mendorong dilakukan revisi. Mereka, diantaranya Partai Keadilan Sejahtera, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa. Adapun yang menolak diantaranya Partai Golkar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau