Afganistan

AU Afganistan Tak Punya Pesawat Tempur

Kompas.com - 13/02/2013, 14:45 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Angkatan Udara Afganistan sangat membutuhkan pesawat-pesawat terbang baru menjelang ditariknya pasukan AS dan NATO akhir tahun depan.

Begitu buruknya peralatan yang dimiliki AU Afganistan, Panglima Angkatan Udara Mayor Jenderal Abul Wahab Wardak menyamakan pesawat terbang yang dimiliki AU saat ini dengan barisan sepeda.

Kekuatan udara sangat penting bagi negeri yang dikungkung perang ini, apalagi jaringan jalan raya kerap rusak karena ranjau yang ditanam pemberontak.

Sehingga, pemerintah Afganistan mendesak agar AS meningkatkan kemampuan AU Afganistan sebelum menarik seluruh personil militernya tahun depan.

"Kami akan menghadapi tantangan yang besar dan rumit jika Amerika tidak memberi kami pesawat-pesawat terbang yang memadai," kata Jenderal Wardak.

Selama 11 tahun keberadaan pasukan NATO di Afganistan, dengan armada udara yang sangat lengkap terdiri dari jet tempur, helikopter, pesawat angkut hingga pesawat tanpa awak alias drone.

Tahun lalu, pasukan koalisi melakukan 28.640 misi udara atau sorti di Afganistan, melakukan tembakan sebanyak 4.082 kali, sedangkan drone menembak sebanyak 494 kali.

Selain itu pasukan koalisi juga melakukan puluhan ribu misi pengintaian udara, mengangkut pasukan dan peralatan.

Amerika Serikat memang telah berencana menyisakan pasukan dalam jumlah kecil di Afganistan setelah 2014, namun kekuatan udara yang masif benar-benar akan hilang dari Afganistan.

Sebagai bagian dari strategi Washington akan membangun kembali AU Afganistan -yang saat ini tak memiliki pesawat tempur- yang menurut pemerintah Afganistan perkembangannya sangat lamban.

Afganistan sebenarnya pernah memiliki angkatan udara yang cukup disegani di masa silam.

"Untuk membandingkan kekuatan AU di masa lalu dan sekarang, saya akan berikan contoh mudah," kata Jenderal Wardak yang juga mantan pilot pesawat tempur MiG-21 di asa pendudukan Uni Soviet.

"Perbandingannya adalah dulu seperti mengendarai kendaraan lapis baja, kini seperti mengendarai sepeda," kata Wardak.

"Ada perselisihan di antara kami. Kami berkelahi satu dengan yang lain dan itulah yang menghancurkan angkatan udara kami," tambah Wardak.

Janji-janji untuk membenahi AU sudah lama dilontarkan, namun hingga kini semuanya belum terlaksana.

"Kami memiliki banyak pilot namun tak memilii pesawat," kata seorang perwira AU yang tak ingin disebutkan namanya.

Saat ini AU Afganistan hanya mengandalkan 43 unit helikopter Mi-17 buatan Rusia, sebagian besar adalah helikopter angkut dan hanya enam unit yang merupakan helikopter tempur.

Selain itu, AU Afganistan memiliki 16 unit pesawat angkut C-27 buatan Italia namun kini sudah ditarik dari tugas aktifnya.

"Amerika sudah berjanji akan memberi kami empat unit pesawat angkut C-130 dan pesawat serang ringan AT-6 sebanyak 20 unit," ujar Wardak.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau