Magelang

Sebenarnya Tak Ada Kemelut di Demokrat

Kompas.com - 13/02/2013, 16:02 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com -- Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Magelang, Sad Priyo Putro menyatakan, kemelut yang menerpa elit Partai Demokrat (PD) di pusat saat ini tidak mempengaruhi kader di daerah. Setidaknya hal itu terlihat dari para kader PD Kabupaten Magelang yang masih kompak.

"Sebenarnya tidak ada kemelut di antara kami, hanya saja ada beberapa hal yang harus dibenahi di intern PD. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kami yang di daerah," tutur Sad Priyo, Rabu (13/2.2013).

Karena menurut Sad Priyo, kader-kader Partai Demokrat hanya fokus bekerja melayani rakyat, dan tidak terlena dengan opini-opini publik yang bermunculan dalam menyikapi kondisi PD di tingkat pusat.

Sad Priyo menyebutkan, setidaknya ada enam Fraksi Demokrat di DPRD Kabupaten Magelang yang masih solid, dan selalu menggelar konsolidasi dengan melibatkan akar rumput. Pihaknya juga menyatakan, dukungan penuh atas langkah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Majelis Tinggi PD yang mengambil kendali Demokrat demi penyelamatan dan peningkatan elektabilitas partai.

"Beliau kan pimpinan tertinggi, jadi langkah apapun yang diambil demi membangun partai dan meningkatkan elektabilitas partai, kami yang di daerah akan manut," tandas Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang itu.

"Saya sendiri malah heran dengan orang-orang di luar partai yang seperti kebakaran jenggot menanggapi apa yang terjadi pada intern PD, wong kita sendiri adem ayem," tambahnya.

Mengenai posisi Anas Urbaningrum, Sad Priyo menyatakan DPC Partai Demokrat Kabupaten Magelang masih memberikan dukungan pada mantan Ketua Umum PB HMI tersebut. Hanya saja, jika memang terbukti bersalah, Anas harus turun dari posisi ketua umum.

"Pak SBY kan sudah menyampaikan, siapapun orangnya, begitu jadi tersangka, harus dilepas (jabatannya)," tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Hasan Suryoyudho, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Magelang, yang menyatakan bahwa kisruh yang terjadi di tingkat pusat tidak membuat kader PD di Kota Magelang terpecah belah. Pihaknya mendukung apa yang sudah menjadi keputusan tertinggi pada PD demi perbaikan intern PD sendiri.

"Apa yang terjadi di pusat tidak ada pengaruhnya dengan kami yang di Kota Magelang. Kami harus menghormati keputusan tertinggi PD demi perbaikan PD ke depan," ujarnya saat dihubungi via telepon.

Pihaknya juga tidak terlalu mempermasalahkan siapapun nantinya yang akan mempimpin PD pusat. Baik SBY maupun Anas Urbaningrum, kata Hasan, adalah sama-sama pemimpin PD yang baik dan memiliki kredibilitas yang tinggi.

Diberitakan sebelumnya, pada Jumat (8/2/2013) malam, SBY menyatakan mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat. SBY juga meminta agar Anas fokus pada kasus hukum yang saat ini tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sementara Anas Urbaningrum menilai, tak tepat kata "nonaktif" digunakan untuk menggambarkan kondisinya saat ini. "Bukan dinonaktifkan sebagai ketua umum, tidak ada penonaktifan," ujar Anas di kediamannya di Jalan Teluk Langsa, Duren Sawit, Sabtu (9/2/2013) pagi.

Selengkapnya, ikuti di topik pilihan:
Kemelut Demokrat

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau