Kepala Bidang Layanan Jalan Tol PT Jasa Marga Andrie Kustiawan, Rabu (13/2), selaku pengelola jalan tol Purbaleunyi-Cipularang, berharap peristiwa tersebut tak terulang lagi dengan cara mempertahankan tata guna lahan di sekitar jalan tol.
Menurut Andrie, titik longsor bisa dilintasi kendaraan pada pukul 10.10 setelah tumpukan tanah disingkirkan dari badan jalan. Untuk membersihkan timbunan tanah, Jasa Marga mengerahkan 4 ekskavator, 1 buldoser, dan 10 dump truck yang bekerja sejak tengah malam.
Meski demikian, baru satu ruas jalan yang bisa dilalui sehingga pengguna harus bergantian lewat. Inilah penyebab kemacetan panjang hingga 5 kilometer. ”Rekayasa lalu lintas berupa contraflow atau melawan arus di jalur Jakarta-Bandung dihentikan begitu longsoran tanah berhasil disingkirkan,” ungkap Andrie.
Sebelumnya, pembersihan longsoran tanah baru selesai pada pukul 06.00. Untuk mencegah terjadinya longsor lagi, saat ini di bukit tepi jalan tol dibuat terasering.
Longsor terjadi pada Selasa (12/2) pukul 18.45 setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Longsoran berasal dari tebing di sebelah barat jalan tol dan menimbun badan jalan arah Bandung-Jakarta serta bahu jalan di jalur sebaliknya. Longsoran membuat jalur tol arah Jakarta terputus karena tinggi timbunan tanah mencapai 3 meter dan panjang 50 meter.
Sejak itu, kemacetan terjadi. Sebab, kendaraan dialihkan keluar ke Gerbang Tol Padalarang Timur dan Cikamuning serta melalui jalur arteri Purwakarta. Kendaraan bisa masuk jalan tol lewat Gerbang Tol Jatiluhur.
Direktur Operasi PT Jasa Marga Tbk M Hasanudin mengatakan, pemerintah daerah (pemda) harus ikut bertanggung jawab untuk mencegah longsor, di antaranya ikut menjaga kondisi lingkungan tak berubah.
”Km 100 merupakan daerah potongan dengan ketinggian tebing 25-30 meter. Selama delapan tahun atau delapan kali mengalami musim hujan dalam kondisi stabil, tak ada sama sekali tanda-tanda longsor. Di kawasan itu telah terjadi perubahan tata guna lahan di atas tebing,” kata Hasanudin.
Ketua Umum Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan Eka Sari Lorena meminta dilakukan audit zona rawan di Tol Cipularang. ”Demi kepentingan bersama agar transportasi barang dan orang tidak lagi terganggu,” ungkapnya.
Dari dialog sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Brebes, Pemerintah Kabupaten Brebes serta Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Balapulang dan KPH Pekalongan Barat, terungkap bahwa kerusakan hutan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sungguh memprihatinkan.
Sebagian hutan yang terletak di daerah perbukitan masih belum tertanami pohon. Akibatnya, rawan longsor atau banjir. Bahkan, beberapa wilayah beralih fungsi jadi lahan pertanian. Misalnya, jadi lahan kentang dan kubis. Kondisi hutan yang rusak itulah yang diduga menjadi penyebab bencana tanah longsor di Dukuh Luwung, Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Brebes, pekan lalu.
Sementara di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jateng, sedikitnya 60 keluarga di desa tersebut terancam tanah longsor dari Bukit Gunungputri yang berada di atas permukiman warga. Struktur tanah bukit tersebut semakin labil akibat terus-menerus digerus air hujan dengan intensitas tinggi sejak beberapa pekan terakhir.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Bantarbarang Ludjeng AS. ”Longsor bisa terjadi sewaktu-waktu,” katanya.(ELD/RYO/WIE/GRE)