Terasering Cegah Longsor

Kompas.com - 14/02/2013, 03:11 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS - Ruas tol Purbaleunyi-Cipularang Km 100,6 arah Jakarta dari Bandung, Jawa Barat, yang sempat terputus selama 16 jam akibat tertimbun tanah longsor, Rabu siang kembali normal. Agar longsor tak terjadi lagi, di bukit dibuat terasering.

Kepala Bidang Layanan Jalan Tol PT Jasa Marga Andrie Kustiawan, Rabu (13/2), selaku pengelola jalan tol Purbaleunyi-Cipularang, berharap peristiwa tersebut tak terulang lagi dengan cara mempertahankan tata guna lahan di sekitar jalan tol.

Menurut Andrie, titik longsor bisa dilintasi kendaraan pada pukul 10.10 setelah tumpukan tanah disingkirkan dari badan jalan. Untuk membersihkan timbunan tanah, Jasa Marga mengerahkan 4 ekskavator, 1 buldoser, dan 10 dump truck yang bekerja sejak tengah malam.

Meski demikian, baru satu ruas jalan yang bisa dilalui sehingga pengguna harus bergantian lewat. Inilah penyebab kemacetan panjang hingga 5 kilometer. ”Rekayasa lalu lintas berupa contraflow atau melawan arus di jalur Jakarta-Bandung dihentikan begitu longsoran tanah berhasil disingkirkan,” ungkap Andrie.

Sebelumnya, pembersihan longsoran tanah baru selesai pada pukul 06.00. Untuk mencegah terjadinya longsor lagi, saat ini di bukit tepi jalan tol dibuat terasering.

Longsor terjadi pada Selasa (12/2) pukul 18.45 setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Longsoran berasal dari tebing di sebelah barat jalan tol dan menimbun badan jalan arah Bandung-Jakarta serta bahu jalan di jalur sebaliknya. Longsoran membuat jalur tol arah Jakarta terputus karena tinggi timbunan tanah mencapai 3 meter dan panjang 50 meter.

Sejak itu, kemacetan terjadi. Sebab, kendaraan dialihkan keluar ke Gerbang Tol Padalarang Timur dan Cikamuning serta melalui jalur arteri Purwakarta. Kendaraan bisa masuk jalan tol lewat Gerbang Tol Jatiluhur.

Pemda bertanggung jawab

Direktur Operasi PT Jasa Marga Tbk M Hasanudin mengatakan, pemerintah daerah (pemda) harus ikut bertanggung jawab untuk mencegah longsor, di antaranya ikut menjaga kondisi lingkungan tak berubah.

”Km 100 merupakan daerah potongan dengan ketinggian tebing 25-30 meter. Selama delapan tahun atau delapan kali mengalami musim hujan dalam kondisi stabil, tak ada sama sekali tanda-tanda longsor. Di kawasan itu telah terjadi perubahan tata guna lahan di atas tebing,” kata Hasanudin.

Ketua Umum Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan Eka Sari Lorena meminta dilakukan audit zona rawan di Tol Cipularang. ”Demi kepentingan bersama agar transportasi barang dan orang tidak lagi terganggu,” ungkapnya.

Memprihatinkan

Dari dialog sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Brebes, Pemerintah Kabupaten Brebes serta Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Balapulang dan KPH Pekalongan Barat, terungkap bahwa kerusakan hutan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sungguh memprihatinkan.

Sebagian hutan yang terletak di daerah perbukitan masih belum tertanami pohon. Akibatnya, rawan longsor atau banjir. Bahkan, beberapa wilayah beralih fungsi jadi lahan pertanian. Misalnya, jadi lahan kentang dan kubis. Kondisi hutan yang rusak itulah yang diduga menjadi penyebab bencana tanah longsor di Dukuh Luwung, Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Brebes, pekan lalu.

Sementara di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jateng, sedikitnya 60 keluarga di desa tersebut terancam tanah longsor dari Bukit Gunungputri yang berada di atas permukiman warga. Struktur tanah bukit tersebut semakin labil akibat terus-menerus digerus air hujan dengan intensitas tinggi sejak beberapa pekan terakhir.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Bantarbarang Ludjeng AS. ”Longsor bisa terjadi sewaktu-waktu,” katanya.(ELD/RYO/WIE/GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau