JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mewaspadai harga minyak mentah dunia yang cenderung naik. Ini dikhawatirkan akan mengganggu neraca perdagangan.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menjelaskan pemerintah akan terus mencermati, khususnya dampak ke belanja pemerintah dan pada indikator makro.
"Namun, sejauh ini, harga minyak mentah Indonesia (ICP) belum sampai harus mengubah asumsi makro. Memang ICP tinggi ini harus diwaspadai dampaknya ke neraca pembayaran, neraca perdagangan, dan APBN," kata Mahendra saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian Rabu malam (13/2/2013).
Menurut Mahendra, hingga saat ini, pihaknya belum melihat konteks untuk bisa mengubah asumsi makro. Sebab, untuk bisa mengubah asumsi makro ekonomi tidak hanya berdasar gejolak harga minyak mentah dunia, tetapi juga harus berdasarkan perekonomian global.
Pada perdagangan Rabu waktu New York, kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, menetap di 97,01 dollar AS per barrel, turun 50 sen dari penutupan Selasa. Sementara dalam perdagangan di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret naik enam sen menjadi berakhir pada 118,72 dollar AS per barrel, mencetak keuntungan di tengah meningkatnya pasar saham Eropa.
Adapun harga ICP masih bertengger di kisaran 97 dollar AS per barrel. Menteri Keuangan Agus Martowardojo memprediksikan harga minyak nasional (ICP) selama 2013 akan bergerak di 100-109 dollar AS per barrel. Perkiraan pergerakan ICP tersebut disebabkan antisipasi terhadap gejolak minyak.
Adapun dua hal penting yang perlu menjadi perhatian adalah gejolak minyak karena faktor iklim dan geopolitik di Afrika dan Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang