Grup Kalla Minta PT Jakarta Monorail Terbuka

Kompas.com - 14/02/2013, 15:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Grup Kalla menginginkan PT Jakarta Monorail untuk bisa terbuka mengenai segala proses proyek monorel. Corporate Secretary Grup Kalla Andi Asmir menyatakan, selama ini, pihak JM tidak terbuka sejak perkenalan bisnis bersama pada Desember 2012 lalu.

"Intinya kami tidak maju atau mundur sebab Jakarta Monorail selama ini tidak terbuka. Mereka belum mau melakukan proses standar bisnis seperti biasa," kata Andi saat konferensi pers di Ritz Carlton Jakarta, Kamis (14/2/2013).

Menurut Andi, selama ini, Grup Kalla tidak bisa melanjutkan proses bisnis bersama ataupun mundur sebab sampai saat ini belum ada ikatan bersama antara kedua perusahaan. Namun, bila PT JM memilih bekerja sama dengan Grup Ortus, pihaknya juga memilih menerima dengan senang hati.

"Silakan saja. Yang penting proyek ini lekas bisa direalisasikan dan dinikmati masyarakat," tambahnya.

Selama ini, Grup Kalla ingin mencoba menganalisis untuk menyelesaikan macet tersebut dari kacamata bisnis JM, termasuk apa yang sudah dilakukan oleh JM. Namun, ternyata apa yang sudah dilakukan JM, termasuk segala utang-utangnya, justru malah ditutupi.

"Kami ini sudah mengirimkan penandatanganan kerja sama (MoU) sejak Desember lalu. Namun, itu pun belum disepakati. Isi MoU tersebut merupakan proses studi kelayakan (due diligence) dari proyek monorel yang ditawarkan Grup Kalla," tambahnya.

Namun, dari percakapan awal tersebut, sebenarnya JM juga belum memberikan respons. Pihak JM hanya merespons sekali pada awal Januari. Lantas direspons balik oleh Grup Kalla, tetapi sejak itu lantas tidak ada kabar sama sekali. Tiba-tiba, muncul Grup Ortus sebagai partner JM.

Seperti diberitakan, Manajemen Grup Hadji Kalla menegaskan tetap berkomitmen membangun monorel di Jakarta melalui kepemilikan saham mayoritas (top majority) di PT Jakarta Monorail. Grup Kalla bahkan telah menyiapkan konsep dan pendanaan untuk merealisasikan komitmen tersebut.

Grup Kalla meluruskan pemberitaan yang menyatakan Grup Kalla mundur dari proyek monorel Jakarta akibat masuknya investor baru ke PT Jakarta Monorail. "Kami belum pernah menyatakan akan mundur dan kami tetap komitmen merealisasikan proyek monorel Jakarta. Dari sisi konsep dan pendanaan juga, kami sudah sangat siap," kata Andi.

Dalam satu bulan terakhir, Grup Kalla melakukan pembicaraan yang cukup intens dengan PT Jakarta Monorail. Bahkan, dalam rapat terakhir pada 23 Januari 2013, disepakati PT Jakarta Monorail akan memberikan tanggapan atas draf kesepakatan kerja sama untuk pembangunan proyek monorel pada 25 Januari.

"Namun, hingga kini, belum ada tanggapan, justru pagi ini ada pernyataan di berbagai media yang menyatakan bahwa ada investor baru dari Singapura, Ortus Group, yang katanya menggantikan kami dalam proyek monorel tersebut," kata Andi. 

Andi menandaskan, Grup Kalla juga tetap berkomitmen menjadi pemegang saham mayoritas di PT Jakarta Monorail, pemegang konsesi proyek monorel Jakarta.

Grup Kalla masih berpegang pada kesepakatan awal dengan manajemen PT Jakarta Monorail bahwa Grup Kalla akan menjadi top majority di PT Jakarta Monorail. Sampai saat ini, belum ada perubahan kesepakatan antara Grup Kalla dan manajemen PT Jakarta Monorail. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau