UE Desak Israel Benahi Kondisi Tahanan Palestina

Kompas.com - 17/02/2013, 06:51 WIB

KOMPAS.com - Uni Eropa (UE), Sabtu (16/2/2013), mendesak Israel segera memperbaiki kondisi para tahanan asal Palestina. Saat bersamaan, Menteri Urusan Tahanan dari Pemerintah Otonomi Palestina Issa Qararea mengatakan bahwa unjuk rasa akan digelar pada pekan depan untuk mendukung para tahanan.
     
Jumlah tahanan Israel dari Palestina saat ini mencapai hampir 5.000 orang. Mereka pada umumnya dituduh telibat dalam serangan kepada penduduk Israel.
     
Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa dia mengikuti dengan kepedulian yang dalam atas kondisi kesehatan yang terus menurun dari empat orang Palestina. Mereka sedang menjalani mogok makan sebagai bentuk protes terhadap penahan mereka. "Uni Eropa mendesak pemerintah Israel untuk segera memulihkan hak tahanan untuk menerima kunjungan keluarga," kata dia.
     
"Uni Eropa juga meminta Israel untuk menghormati tanggung jawab pemenuhan hak asasi manusia dalam standar internasional kepada semua warga Palestina yang ditahan dan dipenjara," kata Ashton.
     
Sementara itu, juru bicara Pelayanan Penjara Israel mengatakan bahwa empat tahanan yang dimaksud Ashton saat ini berada dalam "kondisi yang baik" dan menerima perawatan medis yang dibutuhkan. Namun, juru bicara yang tidak disebutkan namanya  tersebut mengakui keempat orang tahanan telah kehilangan hak menerima kunjungan keluarga karena melakukan aksi mogok makan.
     
Di sisi lain, Menteri Urusan Tahanan dari Otoritas Palestina Issa Qararea menyatakan serangkaian demonstrasi akan digelar pada setiap hari pada minggu depan untuk menunjukkan solidaritas dengan para tahanan.
     
Pada Jumat, demonstran Palestina bentrok dengan tentara Israel saat melakukan protes di luar penjara Israel di Tepi Barat.
     
Dari semua tahanan yang telah didaftar oleh Ashton, Samer al-Issawi adalah orang yang melakukan mogok makan paling lama, yaitu selama 208 hari. Dia telah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena aksinya.
     
Sebelumnya, Issawi pernah dilepaskan dari penjara pada 2011 lalu bersama puluhan tahanan lainnya sebagai bagian dari pertukaran tawanan. Tapi, tulis AP, Israel kembali menangkap Issawi pada Januari 2012 karena dituduh melanggar syarat-syarat pembebasan dengan terlibat dalam aktivitas militer.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau